Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Pejabat Iran melaporkan pemadaman listrik besar-besaran dan serangan yang menyasar stasiun kereta di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis di selatan negara itu. Insiden ini terjadi di tengah serangan udara Amerika Serikat yang memasuki malam keenam.
Serangan terbaru AS dikonfirmasi menargetkan fasilitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz, jalur vital pengangkutan minyak dunia. Menanggapi eskalasi ini, Teheran mengeluarkan pernyataan keras bahwa status Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Ini sinyal bahwa Iran siap mempertahankan kendali atas jalur laut tersebut dengan segala cara.
Analisis: Eskalasi ini langsung memicu kekhawatiran global. Selat Hormuz menguasai aliran sekitar 20% minyak dunia. Jika Iran benar-benar menutup atau membatasi akses di selat ini, harga minyak bumi berpotensi melonjak drastis dalam waktu singkat. Bagi Indonesia, ini berarti ancaman kenaikan harga BBM dan barang impor karena biaya logistik membengkak. Situasi ini juga memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik terbuka yang melibatkan kekuatan besar di kawasan.