Jakarta, CNN Indonesia — Kenaikan harga bahan bakar pesawat global memaksa Delta Air Lines memangkas proyeksi keuntungan mereka untuk tahun ini. Maskapai asal Atlanta itu memperkirakan biaya bahan bakar tahunan mereka melonjak hingga 6 miliar dolar AS (sekitar Rp 93 triliun) akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengerek harga minyak dunia.
Dampaknya terasa pada target pendapatan perusahaan. Delta menurunkan proyeksi laba per saham dari sebelumnya $6,50–$7,50 menjadi hanya $5,10–$5,60. Angka ini di bawah ekspektasi rata-rata analis pasar yang berada di level $5,46. Meski begitu, saham Delta tercatat masih tumbuh 18 persen secara year-to-date, meski sempat melemah 1,1 persen dalam perdagangan terakhir.
CEO Delta, Ed Bastian, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menaikkan harga tiket sekitar 20 persen tahun ini. Menariknya, ia yakin harga tinggi ini bisa terus dipertahankan meskipun harga bahan bakar nantinya menurun. Permintaan tiket pesawat, terutama kelas premium, tetap kuat. Pendapatan dari kursi premium melonjak 18 persen pada kuartal ketiga. Bahkan, 60 persen penerbangan kuartal keempat sudah dipesan.
Namun, ada catatan penting bagi industri penerbangan secara umum. Survei dari University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen berpenghasilan rendah sedang menurun tajam. Kelompok ini mulai mengurangi perjalanan karena tidak mampu menanggung kenaikan harga tiket yang terus merangkak naik. Fenomena ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan industri penerbangan mungkin tidak merata, dengan segmen premium yang tetap kuat sementara kelas ekonomi tertekan.