Bihac, Bosnia dan Herzegovina — Puluhan pengungsi dan migran yang mengimpikan kehidupan lebih baik di Uni Eropa (UE) kini menghadapi kenyataan pahit. Mereka menuduh petugas perbatasan Kroasia, negara anggota UE, melakukan kekerasan dan praktik 'pemulangan paksa' atau pushback ilegal saat mereka mencoba menyeberang dari Bosnia. Kisah-kisah pilu ini terkumpul dari para pencari suaka yang datang dari berbagai negara seperti Afghanistan, Mesir, Maroko, Pakistan, Suriah, hingga Sudan.
Menurut kesaksian para migran yang dihimpun Al Jazeera, mereka kerap mengalami tindak kekerasan fisik, dirampas ponsel serta pakaian musim dingin, dan dipaksa kembali ke Bosnia. Padahal, menurut hukum internasional, setiap orang yang tiba di perbatasan memiliki hak untuk mengajukan suaka dan tinggal selama proses klaimnya dipertimbangkan. Namun, hak itu kerap diabaikan, digantikan dengan pengusiran paksa yang membuat mereka harus memulai perjalanan berbahaya lagi dari awal.
Salah satu kisah datang dari Hamid (54), seorang pria Maroko yang berambisi menemui putranya di Prancis. Hamid mengaku pernah dipukuli polisi Bosnia dua tahun lalu hingga lututnya patah, membuatnya cacat permanen. Ia terjebak di Bihac, tidur di taman atau bangunan terbengkalai, terus berjuang menaklukkan rute berbahaya melintasi sungai es dan puncak bersalju. Banyak migran senasib dengannya; upaya mereka seringkali gagal, bahkan tak sedikit yang hilang atau tewas tenggelam di sungai Una dan Sava. Data menunjukkan, setidaknya 22 migran dilaporkan hilang di rute Balkan Barat dalam beberapa waktu terakhir, angka yang diyakini jauh lebih tinggi dari kenyataan.
Praktik pemulangan paksa ini dikutuk oleh berbagai organisasi hak asasi manusia sebagai tindakan ilegal. Mereka menuntut pertanggungjawaban karena tindakan tersebut jelas melanggar hak asasi manusia dan ketentuan hukum internasional tentang suaka. Situasi ini diperparah dengan rencana UE untuk merombak sistem suaka tahun ini, yang dikhawatirkan akan semakin mempersempit harapan para pencari suaka untuk mendapatkan perlindungan di Eropa. Perdebatan antara keamanan perbatasan dan hak asasi manusia para pengungsi pun kian memanas, menyoroti krisis kemanusiaan yang mendalam di 'pintu gerbang' Benua Biru.