Ketegangan di Ukraina kembali memanas seiring intensitas serangan Rusia yang kian gencar menjelang datangnya musim dingin. Situasi ini memaksa banyak warga, khususnya di Kyiv, untuk mengambil keputusan berat demi keselamatan keluarga mereka.
Mariia Shostak, seorang ibu dua anak, memilih untuk mengemasi barangnya dan meninggalkan apartemennya demi menghindari musim dingin yang diprediksi akan sangat berat. Pengalaman pahit tahun lalu, di mana suhu ekstrem dan pemadaman listrik berkepanjangan melanda, membuatnya trauma. Kini, dengan serangan drone dan rudal yang terjadi hampir setiap saat di pusat kota, ia merasa tidak ada tempat yang aman. Mariia berencana menghabiskan musim dingin di Hurghada, Mesir, yang dinilai lebih murah dan hangat dibandingkan Eropa.
Fenomena ini tidak terjadi pada Mariia saja. Survei dari lembaga riset Gradus menunjukkan bahwa 40% warga Ukraina sedang mempertimbangkan untuk pindah jika kondisi hidup terus memburuk. Kekhawatiran tidak hanya soal listrik, tetapi juga logistik pangan yang terancam akibat serangan Rusia pada pusat distribusi besar. Serangan terbaru yang menyasar jembatan, sekolah, dan SPBU di Kyiv semakin memperkuat rasa bahaya bagi keluarga dengan anak kecil, memicu gelombang eksodus baru menjelang musim dingin.