Biarawati, Prancis – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait program nuklir Iran. Dalam pertemuan bilateral dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, di sela-sela KTT G7 di Biarawati, Prancis, Trump menegaskan bahwa Iran telah setuju untuk tidak memproduksi senjata nuklir.
Trump memperingatkan jika Iran melanggar komitmen tersebut, negara itu akan menghadapi konsekuensi yang tak terbayangkan. “Jika mereka nekat, neraka akan turun ke atas mereka,” ujar Trump dengan nada mengancam. Ia menambahkan bahwa Iran akan ‘menderita akibat yang luar biasa’ jika upaya pengembangan senjata nuklir terus berlanjut.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Sejak keluar dari Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA), AS terus menerapkan kebijakan ‘tekanan maksimum’ terhadap Iran melalui sanksi ekonomi yang melumpuhkan. Di sisi lain, Iran mulai memperkaya uranium di atas ambang batas yang diizinkan dalam perjanjian tersebut.
Analisis Dampak: Pernyataan Trump ini jelas memperkeruh suasana diplomasi global. Ancaman ‘neraka’ yang dilontarkan di forum internasional seperti G7 justru bisa menjadi bumerang. Alih-alih membuat Iran gentar, retorika keras ini bisa memicu reaksi balik dari kalangan garis keras Teheran. Para pengamat menilai, langkah ini juga membuat negara-negara Eropa yang masih berusaha menyelamatkan JCPOA semakin sulit bernapas. Jika Iran benar-benar mempercepat pengayaan uraniumnya, maka kawasan Timur Tengah berada di ambang konflik besar baru, mengingat Israel juga sudah mengancam akan melakukan serangan pre-emptive jika program nuklir Iran dianggap sudah sangat dekat dengan tahap militerisasi.