BEIRUT, MEDIA ONLINE – Gencatan senjata parsial antara Israel dan Hizbullah belum mampu menghentikan kekerasan di Lebanon Selatan. Di tengah kesepakatan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump, serangan udara Israel justru menghancurkan bangunan di samping Rumah Sakit Jabal Amel di kota Tirus, Senin (25/11) sore.
Akibat serangan itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan empat orang tewas dan 127 lainnya luka-luka. Yang lebih memprihatinkan, 39 di antaranya adalah staf medis rumah sakit. Empat orang di antaranya berada dalam kondisi kritis. Direktur RS Jabal Amel, Dr. Wael Mroueh, membantah adanya target militer di sekitar fasilitas kesehatan tersebut. "Musuh Israel menargetkan jurnalis, pekerja ambulans, dan staf medis. Mereka ingin mengusir kami dari negara ini," ujarnya.
Situasi di lokasi kejadian pada Selasa pagi menggambarkan kehancuran total. Beton berantakan dan besi bengkok berserakan. Suara klakson mobil rusak dan gemericik kabel listrik putus memecah kesunyian. Seorang perempuan terlihat menangis di depan apartemennya yang hancur setengah. "Saya tinggal di sana," katanya sambil menunjuk puing, "dulu."
Ironisnya, hanya empat jam sebelum serangan, seorang bayi bernama Fares lahir di bangsal bersalin rumah sakit yang sama. Neneknya, Amal, dengan bangga menggendong cucunya. "Hidup memang berat, tapi kami harus menanggungnya. Ini negara dan tanahnya, dia (Fares) harus membelanya," ujarnya.
Pihak militer Israel mengklaim serangan itu menyasar "infrastruktur teroris Hizbullah" di area tersebut. Mereka mengakui serangan itu merusak rumah sakit, tapi menekankan bahwa fasilitas kesehatan "bukan target." Israel juga menuduh Hizbullah bersembunyi di infrastruktur sipil tanpa memberikan bukti. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat, sejak konflik meningkat, 128 paramedis dan pekerja kesehatan tewas dalam 159 serangan terhadap ambulans dan fasilitas medis.
Analisis Dampak: Serangan terhadap RS Jabal Amel ini membuka luka lama soal hukum perang internasional. Rumah sakit adalah objek yang dilindungi, dan menyerangnya bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang. Di tengah gencatan senjata parsial, aksi ini juga menunjukkan bahwa kesepakatan itu sangat rapuh. Hizbullah sendiri mengaku telah menembaki posisi Israel sebagai balasan. Situasi ini mengancam keselamatan warga sipil yang sudah terpojok dan membuat upaya perdamaian semakin rumit.