Jakarta, CNN Indonesia – Klaim Presiden AS Donald Trump soal dibukanya kembali Selat Hormuz setelah kesepakatan dengan Iran ternyata jauh dari kenyataan. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya tujuh kapal yang berani melintas, sementara hampir 580 kapal lainnya masih 'terjebak' dan memilih menunggu di Teluk Persia.
Trump pada Minggu (15/6) mengumumkan kesepakatan dengan Iran dan menyatakan 'pembukaan' Selat Hormuz. Dalam unggahannya di Truth Social, ia bahkan menulis 'Ships of the World, start your engines. Let the oil flow!' Namun, analisis BBC Verify terhadap data MarineTraffic mengungkap fakta berbeda. Sejak pengumuman itu, hanya segelintir kapal yang nekat melintasi jalur vital yang sebelumnya ditutup Iran pada akhir Februari lalu setelah serangan AS dan Israel.
Ahli keamanan maritim dari EOS Risk Group, Martin Kelly, menyebut butuh 'kapten yang sangat berani' untuk melintas saat ini. Alasannya, Iran masih menembaki kapal yang tidak mendapat izin, sementara AS juga masih mempertahankan blokade angkatan lautnya hingga kesepakatan ditandatangani secara resmi. Data satelit terbaru menunjukkan empat kapal perang AS masih berjaga di pintu masuk Teluk Oman.
Analis senior Kpler, Naveen Das, menjelaskan bahwa situasi saat ini adalah 'saling menunggu'. Para pemilik kapal dan kapten khawatir menjadi yang pertama mengambil risiko. 'Kami mungkin akan melihat perusahaan-perusahaan Yunani yang lebih berani berhasil keluar, dan itu bisa membangun kepercayaan bagi yang lain,' ujarnya. Namun, hingga saat ini, lalu lintas kapal tanker dan kargo masih lumpuh, mengancam pasokan minyak global yang biasanya 20 persennya melewati selat ini.