San Antonio, Texas – Kepanikan sempat melanda penggemar New York Knicks yang sudah membeli tiket untuk menyaksikan Game 5 Final NBA melawan San Antonio Spurs di Texas. Kekhawatiran itu muncul setelah beredar kabar bahwa Ticketmaster akan membatalkan tiket pembeli yang berdomisili lebih dari 241 kilometer dari arena Frost Bank Center.
Ticketmaster buka suara untuk meredakan kekhawatiran tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa tidak ada tiket yang dibeli melalui platform mereka yang dibatalkan. “Penggemar yang membeli tiket di Ticketmaster bisa percaya diri bahwa mereka mendapatkan tiket asli dan terverifikasi yang bisa digunakan untuk masuk ke pertandingan malam ini,” kata juru bicara Ticketmaster kepada BBC, Sabtu (15/6/2024).
Sebelumnya, Gubernur New York Kathy Hochul dan Jaksa Agung New York Letitia James bereaksi keras terhadap isu pembatalan tiket. Hochul menyebut kebijakan itu sebagai pelanggaran terhadap penggemar Knicks yang sudah menunggu puluhan tahun untuk mendekati gelar juara. “Saya teriak 'foul',” tulisnya di media sosial.
Pihak San Antonio Spurs pun angkat bicara. Menurut mereka, pembatasan geografis memang sudah berlaku sejak babak playoff NBA dimulai pada April lalu. Tujuannya, memberi kesempatan lebih besar bagi penggemar lokal untuk mendapatkan tiket. Namun, mereka memastikan tiket yang sudah dibeli sebelumnya tidak akan dicabut atau dibatalkan.
Perwakilan Madison Square Garden Sports Corp juga mengonfirmasi bahwa pemilik Spurs sudah berjanji tidak akan mencabut tiket penggemar Knicks. Semua pemegang tiket dipersilakan masuk ke Frost Bank Arena.
Dampak dan Analisis: Insiden ini membuka celah besar dalam sistem penjualan tiket berbasis lokasi geografis. Di satu sisi, kebijakan ini melindungi penggemar lokal dari pembelian massal oleh calo. Namun, di sisi lain, kebijakan ini berpotensi memicu ketegangan antarwilayah dan merugikan penggemar setia yang rela bepergian jauh. Dari sisi hukum, langkah Jaksa Agung New York yang turun tangan menunjukkan bahwa praktik ini bisa berujung pada tuntutan diskriminasi atau pelanggaran hak konsumen. Ke depannya, platform penjualan tiket seperti Ticketmaster perlu merumuskan ulang kebijakan ini agar lebih adil, misalnya dengan sistem prioritas berdasarkan keanggotaan fan club atau riwayat pembelian, bukan semata-mata alamat tagihan kartu kredit.