Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam. Dalam perkembangan terbaru, tiga warga negara Arab Saudi dilaporkan tewas dalam serangan yang menyasar Bandara Internasional di Riyadh. Otoritas Penerbangan Sipil Saudi membenarkan insiden tersebut, yang terjadi setelah kelompok Houthi asal Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Serangan ini terbagi dalam dua gelombang pada hari Kamis. Gelombang pertama menyasar area bandara, sementara gelombang kedua menghantam sebuah pesawat milik maskapai nasional Saudia. Seorang pilot dilaporkan menjadi salah satu korban jiwa dalam insiden tersebut. Meski demikian, pihak berwenang memastikan aktivitas penerbangan telah kembali normal.
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan telah meluncurkan dua rudal ke bandara tersebut. Mereka juga mengklaim telah menargetkan Bandara Najran dan pangkalan udara Khamis Mushait. Serangan ini merupakan eskalasi lanjutan setelah sebelumnya terjadi serangan serupa pada 6 dan 7 Oktober yang menewaskan tiga orang di Bandara Abha dan Bandara King Khalid.
Juru bicara militer Houthi menyebut aksi ini sebagai balasan atas 'agresi Saudi' yang telah melancarkan puluhan serangan udara dalam 24 jam terakhir. Konflik ini kembali memanas setelah Houthi merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah, termasuk pelabuhan Mokha di Selat Bab al-Mandab, yang merupakan jalur pelayaran vital dunia. Meskipun gencatan senjata sementara sempat disepakati pada 2022, situasi mulai memburuk lagi sejak Juli lalu.