Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru menggantikan ayahnya, bikin heboh lewat pesan Tahun Baru Persia. Ia mengklaim musuh-musuh Iran sedang 'kalah telak' di tengah gempuran serangan dari Amerika Serikat dan Israel yang makin intens. Yang menarik, sejak menjabat, Mojtaba belum pernah sekalipun muncul di hadapan publik, memicu pertanyaan di tengah situasi genting ini.
Dalam pesan tertulis yang dibacakan di televisi nasional pada Jumat lalu, Khamenei tak hanya menyapa warga Iran merayakan Nowruz, tapi juga memuji ketahanan luar biasa rakyatnya. Ia menegaskan, tahun ini adalah masa 'ekonomi perlawanan di bawah persatuan nasional dan keamanan'. Menurutnya, musuh telah dikalahkan berkat persatuan kokoh rakyat Iran, meski dengan segala perbedaan latar belakang keyakinan, intelektual, budaya, dan politik.
Khamenei juga menepis mentah-mentah pandangan AS dan Israel yang mengira rakyat Iran akan menggulingkan pemerintah setelah diserang. Ia menyebut ide bahwa terbunuhnya petinggi rezim dan figur militer berpengaruh bisa menanamkan ketakutan hanyalah 'salah perhitungan besar' dan 'khayalan'. Justru, kata dia, kondisi ini justru 'menciptakan keretakan di pihak musuh'.
Tak cuma itu, pemimpin tertinggi Iran ini juga membantah keras tuduhan bahwa Iran atau pasukannya terlibat dalam serangan di Turki dan Oman. Ia mengklaim kejadian itu adalah insiden 'false flag' atau bendera palsu yang sengaja diatur musuh Iran untuk memicu perselisihan di antara negara tetangga. Padahal, sebelumnya Kementerian Pertahanan Turki melaporkan NATO berhasil mencegat rudal balistik dari Iran, dan dua orang tewas di Oman setelah serangan drone. Klaim ini menunjukkan betapa tegangnya situasi geopolitik di kawasan.
Di tengah semua ketegangan ini, Khamenei tak lupa menyerukan kepada Afghanistan dan Pakistan untuk segera mengakhiri konflik internal mereka. Ia bahkan menyatakan siap turun tangan untuk membantu mediasi. 'Kami menganggap tetangga timur kami sangat dekat,' ujarnya. Seruan ini datang setelah kedua negara tetangga tersebut sempat menyepakati jeda sementara pertempuran selama libur Idul Fitri, pasca berminggu-minggu kekerasan yang mematikan.
Absennya Mojtaba dari pandangan publik sejak ia menjadi pemimpin tertinggi, setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, terbunuh pada 28 Februari, menjadi poin penting. Analis mencatat bahwa konstitusi Iran memang dirancang dengan mempertimbangkan kemungkinan kekosongan kekuasaan, semacam 'protokol bertahan hidup' untuk memastikan sistem tetap berjalan di tengah guncangan besar. Hal ini menegaskan bahwa suksesi kepemimpinan di Iran berlangsung dalam kondisi yang sangat volatil dan penuh tantangan.