Rencana Pentagon untuk menyiarkan secara langsung eksekusi mati terhadap pelaku penembakan di pangkalan militer Fort Hood, Texas, menuai kecaman keras dari para anggota parlemen Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengumumkan bahwa eksekusi terhadap mantan Mayor Angkatan Darat AS, Nidal Hasan, akan disiarkan secara publik melalui siaran langsung pada 3 Desember mendatang.
Hasan sendiri merupakan pelaku penembakan yang menewaskan 13 orang di pangkalan militer tersebut pada tahun 2009 silam. Ia dijatuhi hukuman mati pada Agustus 2013 setelah dinyatakan bersalah atas 45 dakwaan pembunuhan berencana dan percobaan pembunuhan. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah mengizinkan penggunaan regu tembak untuk mengeksekusi Hasan.
Keputusan untuk menyiarkan eksekusi ini langsung mendapat reaksi keras dari kedua kubu partai di Kongres. Senator Republik Thom Tillis menyebut rencana tersebut sebagai hal yang 'menjijikkan' dan menegaskan bahwa eksekusi publik adalah praktik yang dilakukan oleh diktator opresif seperti Iran dan Afghanistan, bukan Amerika. Senada dengan itu, anggota Kongres dari Partai Republik, Austin Scott, menilai bahwa siaran langsung eksekusi adalah tindakan yang dilakukan oleh kelompok jihadis dan menegaskan bahwa Amerika harus lebih baik dari itu.
Dari kubu Demokrat, Senator Jack Reed mendesak pemerintahan Trump untuk mempertimbangkan ulang keputusan tersebut. Ia menilai siaran langsung eksekusi adalah tontonan barbar yang justru menjadi 'hadiah' bagi para perekrut teroris anti-Amerika. Senator Chris Murphy juga mengungkapkan keterkejutannya dan menyebut keputusan ini sebagai hal yang menjijikkan, bahkan menyinggung apakah AS sedang meniru cara eksekusi kelompok ISIS.
Analisis singkat: Rencana ini tidak hanya menimbulkan perdebatan etis tentang hukuman mati, tetapi juga berpotensi merusak citra Amerika Serikat di mata dunia internasional. Para kritikus khawatir bahwa siaran langsung ini dapat dimanfaatkan sebagai alat propaganda oleh kelompok ekstremis untuk menunjukkan bahwa AS melakukan tindakan yang sama brutalnya dengan kelompok teror. Selain itu, fokus pada aspek hiburan dari eksekusi dinilai mengabaikan rasa keadilan dan duka keluarga korban.