Gelombang perubahan sedang melanda Serbia. Puluhan ribu pendukung gerakan oposisi yang digerakkan mahasiswa membanjiri pusat Kota Belgrade pada Kamis (18/12) menjelang pemilihan parlemen yang digelar hari Minggu. Mereka berharap bisa mengakhiri 14 tahun kekuasaan Perdana Menteri Aleksandar Vucic.
Massa yang mengenakan bendera bertuliskan 'Students are winning' dan meniup peluit memadati Slavija Square, lokasi protes terbesar mereka. Di lokasi terpisah, Vucic menggelar rapat umum saingan di sebuah gedung olahraga. Pemilu kali ini menjadi momen krusial bagi rakyat Serbia untuk menentukan arah baru negara tersebut.
Gerakan ini lahir dari tragedi runtuhnya kanopi Stasiun Kereta Api Novi Sad pada 2024 silam yang menewaskan 16 orang. Insiden yang dituding akibat korupsi itu memicu demonstrasi terbesar sejak jatuhnya Slobodan Milosevic tahun 2000. Kini, koalisi 'Student List' yang berisi para akademisi dan tokoh non-politik mencalonkan 250 wakil untuk parlemen dengan agenda utama pemberantasan korupsi.
Meski Vucic menuduh gerakan ini sebagai upaya kudeta yang didanai asing, gelombang dukungan rakyat terus menguat. Analis politik memperkirakan mahasiswa bisa meraup lebih dari 40 persen suara. Namun, situasi tetap memanas karena puluhan organisasi masyarakat sipil memperingatkan kurangnya syarat pemilu yang bebas dan adil, serta mencatat adanya insiden kekerasan selama kampanye.