Ratusan ribu warga Eropa turun ke jalan dalam aksi demonstrasi serentak di berbagai negara pada Sabtu lalu. Mereka memprotes keras kenaikan biaya hidup yang semakin mencekik, memberikan tekanan besar kepada pemerintah di seluruh Uni Eropa.
Prancis menjadi pusat kerusuhan dengan lebih dari 550.000 demonstran terlibat dalam aksi yang berujung bentrokan dengan polisi. Sementara itu, di Brussels, Belgia, aparat keamanan terpaksa menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang mulai melempar benda dan membakar fasilitas umum. Aksi serupa juga meluas ke Lisbon (Portugal) dan kota-kota di Italia seperti Milan serta Bologna, di mana demonstrasi awalnya damai berubah ricuh.
Isu utama yang diangkat bukan sekadar harga pangan, melainkan juga krisis perumahan. Di Portugal, harga rumah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak 2017, membuat warga sulit mendapatkan tempat tinggal. Pemerintah Portugal bersikukuh tidak akan tunduk pada tekanan jalanan, namun para pengunjuk rasa menilai para pemimpin mereka sudah tidak peka terhadap kesulitan rakyat.
Pengamat menilai fenomena ini sebagai tanda peringatan bagi pemerintahan Eropa menjelang siklus pemilu besar yang akan datang. Gelombang protes ini diprediksi tidak hanya berhenti di empat negara tersebut, tetapi berpotensi menyebar ke Jerman, Yunani, dan Austria dalam waktu dekat.