Ramallah, Tepi Barat – Setiap pagi, Fuad Abu Salam hanya bisa menatap dari jauh sisa-sisa bangunan dua lantai di Kamp Pengungsi Tulkarem yang dulu menjadi rumahnya. Kini, ia harus berdesakan di apartemen sewaan sempit bersama istri, empat anak, dan ibunya di pinggiran Thinnabeh.
Perubahan drastis ini bermula pada 21 Januari 2025, saat Israel melancarkan operasi militer bertajuk 'Iron Wall' yang awalnya menyasar Kamp Jenin. Sepekan kemudian, operasi meluas ke Tulkarem dan Nur Shams. Selama Januari hingga Februari 2025, pasukan Israel memaksa seluruh warga di tiga kamp tersebut mengungsi dan hingga kini masih melarang mereka kembali.
Data UNRWA mencatat sebanyak 33.362 warga Palestina masih terkatung-katung sebagai pengungsi paksa. Kerusakan infrastruktur pun sangat masif: 52 persen bangunan di Jenin hancur, disusul Nur Shams (48 persen), dan Tulkarem (36 persen) per Oktober 2025. Akses bantuan kemanusiaan juga terputus total, sementara 102 warga tewas dalam periode tersebut.
Di tengah krisis ini, Mahkamah Agung Israel pada Minggu memerintahkan pemerintah memberikan jadwal kepulangan warga paling lambat 23 November. Namun, perintah itu ditolak keras oleh Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich, yang menuding kepulangan warga akan membangun kembali 'infrastruktur teror'. Menteri Pertahanan Israel Katz pun menegaskan pihaknya akan tetap mempertahankan kehadiran militer di sana dengan alasan keamanan.