Di tengah klaim 'gencatan senjata' yang rapuh, Jalur Gaza kembali jadi saksi tewasnya puluhan warga Palestina dalam sehari, Rabu. Serangan Israel yang menggempur berbagai wilayah ini tak hanya merenggut nyawa, tapi juga menghambat upaya penyelamatan nyawa lain setelah Israel membatalkan koordinasi evakuasi medis vital bagi pasien melalui Rafah.
Setidaknya 21 warga Palestina dilaporkan tewas dalam insiden kekerasan terbaru ini, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak "gencatan senjata" yang konon ditengahi Amerika Serikat dimulai Oktober lalu. Sumber medis, yang berbicara kepada Al Jazeera, menyebutkan beberapa anak-anak turut menjadi korban dalam serangan pada hari Rabu tersebut.
Rincian korban menunjukkan setidaknya 14 orang gugur akibat penembakan Israel di permukiman Tuffah dan Zeitoun di Kota Gaza bagian utara. Sementara itu, empat lainnya tewas dalam serangan terhadap tenda-tenda pengungsian di area Qizan Abu Rashwan, selatan Khan Younis. Dua korban tambahan juga dilaporkan setelah serangan udara Israel menghantam kamp tenda pesisir al-Mawasi. Ironisnya, salah satu korban tewas adalah paramedis dari Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) yang sedang bertugas.
Tareq Abu Azzoum, reporter Al Jazeera dari Khan Younis, melaporkan bahwa sejumlah rumah warga di Kota Gaza menjadi target langsung tanpa peringatan sebelumnya. Ia menambahkan, serangan ini, yang terjadi di tengah gencatan senjata, membuat warga Palestina di Gaza merasa tanpa jeda sedikit pun dari ketegangan dan bahaya.
Militer Israel mengklaim serangan di Gaza utara merupakan respons setelah seorang perwira cadangannya terluka parah. Insiden itu terjadi "selama aktivitas operasional rutin" dekat "garis kuning" yang membatasi area kontrol militer Israel. Namun, perubahan lokasi "garis kuning" di Gaza timur oleh Israel justru menimbulkan kecemasan baru di kalangan warga setempat.
Angka-angka terbaru menunjukkan bahwa sejak "gencatan senjata" empat bulan lalu, lebih dari 520 warga Palestina telah tewas. Secara keseluruhan, total korban tewas akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 kini mencapai lebih dari 31.800 orang, dengan puluhan ribu lainnya terluka. Situasi ini semakin memperparah krisis kemanusiaan yang mendalam di Gaza, di mana akses bantuan sangat terbatas.
Pembatalan koordinasi evakuasi medis oleh Israel juga menambah daftar panjang penderitaan. PRCS mengumumkan bahwa kelompok ketiga pasien Palestina yang seharusnya dievakuasi melalui perlintasan Rafah pada Rabu, dibatalkan keberangkatannya. Raed al-Nims, juru bicara PRCS, menjelaskan prosedur evakuasi seharusnya memungkinkan pasien menjalani pemeriksaan awal di rumah sakit Palang Merah sebelum dipindahkan ke rumah sakit Mesir melalui Rafah, namun semua itu kini tertunda.
Aksi militer Israel di Gaza terus menjadi sorotan dunia. Kelompok hak asasi manusia dan penyelidikan PBB telah menyebut tindakan Israel sebagai genosida. Kasus genosida terhadap Israel sendiri saat ini sedang disidangkan di Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, menambah tekanan global terhadap konflik yang tak kunjung usai ini.