Krisis di Timur Tengah telah memicu guncangan hebat di pasar energi global. Harga minyak Brent, patokan internasional, melesat 9 persen ke level US$ 79,41 per barel pada Senin pagi, mencetak rekor tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga ikut meroket 8,6 persen menjadi US$ 72,79 per barel.
Kenaikan fantastis ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan serangan terhadap Iran bisa berlangsung berminggu-minggu. Pasukan AS dan Israel tak mengendurkan gempuran ke Iran, yang dibalas dengan hujan rudal ke instalasi militer AS dan Israel di kawasan tersebut. Konflik bersenjata ini menimbulkan kekhawatiran serius akan terhentinya pasokan minyak dari Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Sorotan utama tertuju pada Selat Hormuz. Jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia ini kini mencekam. Meski belum sepenuhnya diblokir, situs pelacakan kapal menunjukkan antrean tanker menumpuk di kedua sisi selat, enggan melintas karena takut diserang atau kesulitan mendapatkan asuransi. Menurut Jorge Leon dari Rystad Energy, kondisi ini praktis menghentikan pengiriman 15 juta barel minyak mentah per hari. Jika ketegangan tak mereda, harga minyak diprediksi akan terus meroket tajam.
Dampaknya langsung terasa bagi masyarakat global. Kenaikan harga energi berarti konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk bensin di SPBU, serta menghadapi lonjakan harga bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Ini tentu memperparah beban inflasi yang sudah dirasakan banyak orang.
Di tengah ketidakpastian ini, delapan negara anggota kartel OPEC+ — Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman — sepakat untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari mulai April. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan analis, sebuah langkah antisipatif untuk menstabilkan pasar. Namun, efektivitas langkah ini masih akan bergantung pada seberapa cepat dan bagaimana konflik di Timur Tengah dapat diredakan. Eskalasi lebih lanjut dapat membuat upaya OPEC+ tidak cukup untuk menahan gejolak harga.