Evian-les-Bains, Prancis — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tiba di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (G7) di Prancis dengan membawa angin segar. Ia mengklaim kesepakatan awal gencatan senjata dengan Iran akan membawa stabilitas global. Namun di balik euforia itu, ketegangan justru muncul dari sikap Trump yang kembali mengancam tarif baru untuk Prancis dan mempertanyakan komitmennya terhadap NATO.
Dalam pertemuan dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, Trump memuji kesepakatan yang diumumkan pada Minggu (25/8) itu. Ia menyebut harga minyak langsung turun drastis dan pasar saham melonjak sebagai efek positif dari perjanjian tersebut. “Kesepakatan dengan Iran akan membawa banyak kesuksesan bagi dunia,” ujar Trump.
Meski demikian, para pemimpin G7 lainnya menyambut dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, mereka lega konflik dengan Iran bisa mereda. Namun di sisi lain, mereka waspada terhadap sikap Trump yang dinilai tidak konsisten. Ancaman tarif baru untuk Prancis, serta kritik terhadap aliansi militer NATO, membuat suasana KTT menjadi tegang.
Trump juga menyebut akan mengalihkan fokusnya ke konflik Ukraina-Rusia dan Lebanon. Ia mengaku telah berbicara dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun, Kremlin belum menanggapi tawaran pertemuan yang diajukan Zelenskyy. Situasi ini makin rumit karena Putin masuk dalam daftar buruan Mahkamah Internasional (ICC), sehingga Prancis berkewajiban menangkapnya jika hadir.
Analisis: Kesepakatan dengan Iran memang meredakan ketegangan di Timur Tengah, terutama terkait Selat Hormuz. Tapi sikap sepihak Trump dalam soal tarif dan NATO justru mengancam solidaritas Barat. Di sisi lain, upaya mediasi Trump di Ukraina terganjal status hukum Putin. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada satu masalah selesai, tantangan geopolitik lain tetap mengintai.