Situasi di Iran kian memanas setelah seorang pejabat senior Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan kebijakan mengejutkan: anak-anak berusia di atas 12 tahun kini boleh ikut serta dalam patroli bersenjata dan pos pemeriksaan. Pengumuman ini datang di tengah gelombang kekerasan dan ketegangan yang meningkat, baik di dalam negeri maupun dengan ancaman dari Amerika Serikat dan Israel.
Jalan-jalan di Iran, khususnya Teheran, kini didominasi oleh pasukan negara bersenjata lengkap, mulai dari IRGC, Basij, hingga polisi. Pos pemeriksaan, blokade jalan, dan patroli bersenjata menjadi pemandangan biasa, seringkali diawaki oleh pasukan bertopeng dengan senapan serbu atau senapan mesin yang terpasang di pikap. Ironisnya, pos-pos ini juga menjadi target serangan drone mematikan dari musuh, memaksa mereka terus bergerak atau bersembunyi di lokasi tak terduga seperti terowongan dan di bawah jembatan.
Di tengah gempuran serangan dan persiapan serangan darat oleh AS dan Israel, rezim Iran terus berupaya mengonsolidasi dukungan domestik. Melalui pengeras suara di masjid-masjid dan acara publik, warga diajak untuk mengecam AS dan Israel, serta menyatakan kesetiaan kepada pemerintah teokratis. Di sisi lain, media pemerintah gencar menyiarkan rekaman pendukung bersenjata, termasuk wanita, sebagai bentuk unjuk kekuatan.
Namun, pengakuan Rahim Nadali, wakil urusan budaya IRGC di Teheran, bahwa 'anak-anak berusia 12 atau 13 tahun akan berpartisipasi dalam ruang ini' menjadi sorotan utama. Kebijakan ini, yang menurunkan batas usia partisipasi, mengindikasikan semakin ekstremnya upaya pemerintah Iran untuk mempertahankan kekuasaan dan mengamankan situasi. Keterlibatan anak di bawah umur dalam konflik bersenjata seperti ini bukan hanya menimbulkan keprihatinan serius soal hak asasi manusia, tetapi juga mencerminkan beratnya tekanan yang dihadapi rezim Iran untuk mempertahankan kendali.
Perang yang telah berlangsung hampir sebulan ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Terbaru, serangkaian serangan udara pada Jumat sore menghantam situs nuklir sipil, instalasi listrik, dan pabrik-pabrik industri penting. Washington pun tak tinggal diam, dengan mengerahkan ribuan tentara tambahan ke wilayah tersebut dan mengisyaratkan kemungkinan pendudukan pulau-pulau di pesisir selatan Iran. Menanggapi ancaman ini, pejabat Iran bersumpah akan membalas dengan keras, termasuk menargetkan infrastruktur penting di seluruh kawasan. Kondisi ini membawa Iran ke jurang ketidakpastian yang makin dalam, dengan dampak serius pada stabilitas regional dan keselamatan warga, terutama anak-anak yang kini terancam terlibat dalam pusaran konflik bersenjata.