RIGA — Warga Latvia menuju bilik suara pada Sabtu (5/10) waktu setempat untuk menentukan arah politik negara Baltik tersebut selama lima tahun ke depan. Pemilu ke-11 sejak lepas dari Uni Soviet pada 1991 ini berlangsung di tengah kekhawatiran keamanan terhadap Rusia dan tekanan biaya hidup yang kian mencekik.
Ini menjadi ujian elektoral pertama bagi Perdana Menteri Andris Kulbergs. Ia naik ke kursi kekuasaan pada Mei lalu setelah pendahulunya mundur akibat gelombang kritik terkait insiden drone liar dari Ukraina yang melanggar wilayah udara Latvia.
Partai United List yang dipimpin Kulbergs saat ini mengantongi elektabilitas sekitar 20 persen dan diprediksi tetap menjadi kekuatan terbesar. Namun, dua partai mitra koalisinya diprediksi kehilangan kursi, sehingga negosiasi pembentukan pemerintahan baru dipastikan berjalan alot.
Sebanyak 1,5 juta pemilih terdaftar dalam pemilu kali ini. Sebanyak 14 daftar partai bersaing, tetapi survei menunjukkan hanya tujuh partai yang bakal lolos ambang batas parlemen 5 persen. Fragmentasi politik Latvia memang tinggi — tidak ada partai yang pernah menembus 20 persen suara secara dominan, sehingga koalisi menjadi keniscayaan.
Isu ekonomi mendominasi kampanye: biaya hidup melonjak, upah rendah, sistem kesehatan terbebani, dan populasi yang terus menyusut. Latvia tercatat sebagai negara termiskin di antara tiga negara Baltik, meski belanja pertahanannya melesat hampir 5 persen dari PDB sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Dampak bagi Masyarakat: Hasil pemilu ini tidak akan mengubah arah pro-Eropa dan pro-Ukraina Latvia secara signifikan. Namun, munculnya Partai Sovereign Power yang populis — diprediksi menjadi partai terbesar kedua dengan lebih dari 9 persen suara — menandakan pergeseran prioritas sebagian warga. Partai ini mendukung Ukraina menang, tetapi berargumen dana bantuan untuk Kyiv sebaiknya dialihkan untuk kebutuhan domestik. Mayoritas partai lain menolak berkoalisi dengan Sovereign Power, sehingga skenario kebuntuan politik tetap terbuka.
Menariknya, suara etnis Rusia yang mencapai seperempat populasi Latvia kini cenderung bergeser dari isu identitas ke isu ekonomi dan sosial — sinyal bahwa tekanan hidup nyata lebih mendesak daripada sentimen etnis.