KRISIS ENERGI BAYANGI PERTEMUAN DANA MONETER DUNIA - Berita Dunia
← Kembali

KRISIS ENERGI BAYANGI PERTEMUAN DANA MONETER DUNIA

Foto Berita

Pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok pekan ini menjadi panggung diskusi yang penuh kekhawatiran. Bukan tanpa sebab, perang antara AS-Israel melawan Iran yang telah memasuki bulan kedelapan menjadi bayang-bayang gelap yang mengancam stabilitas ekonomi global.

Fokus utama pertemuan ini adalah dampak inflasi akibat perang dan guncangan pasokan energi terbesar sepanjang sejarah. Krisis ini datang di saat yang kurang tepat, mengingat pertumbuhan ekonomi dunia yang sudah melambat dan suku bunga yang terus naik.

Yang menarik, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memilih absen dan hanya mengirimkan dua pejabat senior. Keputusan ini diduga kuat berkaitan dengan ketegangan politik terkait perang Iran dan sanksi terhadap Mahkamah Kriminal Internasional. Kehadiran Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dijadwalkan dalam sesi publik bersama Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, pada 16 Oktober mendatang.

Di sisi lain, negara-negara G7 telah sepakat melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat. Langkah ini diambil di bawah tekanan Presiden AS Donald Trump yang ingin menekan harga bensin menjelang pemilu November. Trump juga mengumumkan kesepakatan dengan Rusia untuk pasokan diesel tambahan, meski langkah ini menuai kritik tajam dari Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lebih dari satu miliar barel minyak telah dilepas ke pasar. Namun, para eksekutif industri memperingatkan bahwa cadangan minyak yang dapat diakses pasar global semakin menipis. Kondisi ini membuat pasar semakin rapuh dan tekanan terhadap harga semakin sulit dikendalikan.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tetap di angka tiga persen untuk tahun 2026, meski beberapa negara diprediksi mengalami penurunan. Negara-negara Teluk yang terkena serangan Iran dan mengalami penurunan ekspor energi tajam menjadi salah satu yang paling terdampak. Sementara itu, lonjakan harga pangan dan energi menjadi masalah yang semakin umum di berbagai belahan dunia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook