Washington, DC â Amerika Serikat secara resmi mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata sementara antara kedua negara yang mulai berlaku untuk membuka ruang negosiasi.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pada Kamis bahwa semua upaya penegakan blokade telah dihentikan. Meski begitu, militer AS menegaskan akan tetap berada di kawasan untuk memastikan kepatuhan terhadap perjanjian yang telah disepakati.
"Hari ini, pasukan AS menghentikan blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran," demikian pernyataan CENTCOM di media sosial. "Kapal-kapal angkatan laut kami yang hebat akan tetap berada di area umum untuk memastikan semua aspek perjanjian dipatuhi."
Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan bahwa pada Rabu lalu, sebanyak 12,5 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz setelah Angkatan Laut AS mengizinkan lebih dari belasan kapal melintas. Ini menjadi sinyal bahwa rantai pasok energi global mulai menggeliat kembali.
Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan akan memfasilitasi percepatan perizinan bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Iran juga berjanji akan membersihkan ranjau laut yang sempat dipasang selama perang. Menariknya, Iran tidak akan memungut biaya apa pun selama masa negosiasi 60 hari ke depan, meski setiap kapal tetap harus mengajukan permohonan resmi ke badan pemerintah baru yang dibentuk.
Analisis Dampak: Keputusan ini menjadi angin segar bagi pasar energi global yang sempat tercekik akibat konflik. Sebelumnya, kemacetan total di Selat Hormuzâjalur vital pengiriman minyak dan gas duniaânyaris membuat ekonomi global kacau. Namun, kesepakatan ini masih rapuh. Israel yang masih menduduki Lebanon selatan, program nuklir Iran, serta wacana Iran yang ingin memungut biaya penggunaan selat di masa depan menjadi bom waktu yang bisa memicu konflik baru kapan saja.