Maiduguri, Nigeria – Gelombang penculikan yang melanda Nigeria bagian timur laut tidak hanya menjadi ancaman keamanan, tetapi juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Keluarga-keluarga di Negara Bagian Borno kini terpaksa menjual ternak, menguras tabungan, hingga berutang demi menebus anggota keluarga yang diculik.
Kisah pilu datang dari Musa Abdullahi Wakawa. Hidupnya berubah drastis setelah istri dan anaknya yang berusia tujuh tahun diculik. Pertanyaan besar langsung menghantui: dari mana ia harus mendapatkan uang tebusan? Selama berhari-hari, Musa berjuang mencari jalan agar keluarganya bisa kembali, sebuah beban finansial yang dialami banyak keluarga lain di wilayah tersebut.
Laraba Dauda, 45 tahun, masih menyimpan trauma mendalam. Adiknya diculik pada 13 Januari 2026 di jalan Biu–Buratai. Ia sempat menerima panggilan telepon dari adiknya yang tengah berada di semak belukar. "Tante, orang tak dikenal telah menculik kami... tolong doakan kami," ujar Laraba menirukan suara adiknya saat itu. Hingga kini, adiknya tak kunjung pulang dan keluarga tidak tahu keberadaannya.
Dampak krisis ini juga merambah dunia pendidikan. Di Kecamatan Askira-Uba, hanya 56 dari 113 sekolah dasar yang masih beroperasi. Setelah serangan Mei di Mussa, otoritas terpaksa menutup 20 sekolah tambahan. Serangan tersebut menculik puluhan anak, dengan catatan resmi menyebutkan 40 anak hilang, meskipun pemerintah setempat kemudian merujuk pada angka sekitar 44 anak yang masih belum ditemukan.
Analisis Dampak: Situasi ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan baru. Ketika keluarga harus menjual aset produktif untuk tebusan, mereka kehilangan sumber penghasilan jangka panjang. Selain itu, penutupan sekolah massal berpotensi menciptakan "generasi hilang" yang tidak hanya kehilangan pendidikan, tetapi juga rentan direkrut kembali oleh kelompok bersenjata di masa depan.