Jakarta, CNN Indonesia -- Perekonomian Amerika Serikat (AS) mencatatkan kejutan besar di bulan Mei. Data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) menunjukkan terciptanya 172.000 lapangan kerja baru, jauh melampaui prediksi para ekonom yang hanya memperkirakan 105.000.
Lonjakan ini didorong oleh hiruk-pikuk perekrutan di sektor leisure dan hospitality, terutama restoran, bar, dan pub yang bersiap menyambut gelaran Piala Dunia 2026 yang akan digelar bersama oleh AS, Meksiko, dan Kanada. Sektor ini sendirian menyumbang 70.000 pekerjaan baru pada Mei, dengan 48.000 di antaranya berasal dari usaha makanan dan minuman.
Selain sektor hiburan, lapangan kerja juga tumbuh di pemerintahan daerah (55.000) dan layanan kesehatan (35.000). Kejutan positif lainnya datang dari revisi data penciptaan lapangan kerja pada Maret dan April yang ditambah total 93.000, menandakan pasar tenaga kerja AS jauh lebih tangguh dari perkiraan awal. Sektor keuangan justru mencatatkan penurunan jumlah pekerja.
Namun, di balik angka positif ini, ada ancaman besar. Tingkat pengangguran bertahan di 4,3%, sementara inflasi yang mencapai 3,8% terus menggerogoti daya beli masyarakat. Kenaikan harga energi akibat konflik AS-Israel dengan Iran yang membuat Selat Hormuz lumpuh menjadi biang keladi utama inflasi.
Kondisi ini menciptakan ironi. Di satu sisi, bisnis berlomba-lomba merekrut untuk Piala Dunia. Di sisi lain, banyak penggemar mulai mengeluhkan harga tiket yang selangit. Presiden AS Donald Trump sendiri blak-blakan mengatakan 'tidak akan membayar itu juga' saat ditanya soal harga tiket pertandingan Paraguay vs AS yang mencapai 1.000 dolar AS. Hotel pun melaporkan okupansi yang lambat karena calon penonton merasa 'dipatok harga' tinggi.
FIFA bahkan sedang diselidiki oleh jaksa agung New York dan New Jersey atas dugaan 'menaikkan harga secara artifisial' dan 'menyesatkan penggemar'. Ekonom menilai data positif ini bisa mendorong kenaikan suku bunga pada akhir 2026, namun pertumbuhan upah yang lambat justru menjadi alarm bagi tekanan rumah tangga.
"Tekanan pada belanja rumah tangga semakin intensif. Pendapatan riil rumah tangga telah turun selama tiga bulan berturut-turut, dan kepercayaan konsumen mendekati titik terendah sepanjang masa," ujar James Knightley, Kepala Ekonom ING untuk AS. Ia menambahkan, jalan masih panjang dan tren ke depan bergantung pada kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.