Situasi kemanusiaan di Lebanon selatan makin memprihatinkan menyusul perintah 'pergi atau mati' dari militer Israel. Dalam dua minggu terakhir, lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi di dalam negeri, membuat 18% dari populasi Lebanon kini hidup dalam kondisi terkatung-katung. Tak hanya itu, lebih dari 250 ribu orang telah meninggalkan Lebanon, di mana sekitar 125 ribu di antaranya memilih menyeberang ke Suriah—nyaris separuhnya adalah anak-anak—termasuk 7.000 warga negara Lebanon asli.
Militer Israel mengeluarkan ancaman pengungsian paksa ini bagi seluruh warga yang tinggal di selatan Sungai Zahrani, mendesak mereka segera pindah ke utara. Israel beralasan, siapa pun yang tetap tinggal akan membahayakan nyawa mereka akibat aktivitas militer Israel. Perintah ini menandai eskalasi signifikan dalam upaya Israel mengosongkan wilayah yang mereka klaim sebagai posisi militer Hizbullah. Zona evakuasi kini membentang dari Sungai Litani hingga melewati Sungai Zahrani, sekitar 40 kilometer sebelah utara perbatasan Israel, mencakup lebih dari 1.470 kilometer persegi atau sekitar 14 persen wilayah Lebanon dan berdampak pada lebih dari 100 kota serta desa.
Di tengah situasi darurat ini, pasukan darat Israel juga terlihat memperkuat posisi di Lebanon selatan dengan tujuan membentuk 'zona penyangga' keamanan. Dampaknya begitu menghancurkan: menurut data International Organization for Migration, tempat-tempat penampungan yang ada kewalahan menampung 132.742 pengungsi, membuat banyak keluarga terpaksa tidur di jalanan, dalam kendaraan, atau di ruang publik. Lebih parah lagi, upaya warga sipil untuk melarikan diri semakin sulit setelah Israel menghancurkan jembatan-jembatan vital di sepanjang Sungai Litani, memutus akses penting yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah lainnya. Krisis ini bukan hanya menimbulkan beban kemanusiaan yang masif, tetapi juga memperparah instabilitas regional dan berpotensi memicu gelombang pengungsi besar yang dapat mengganggu keseimbangan di negara tetangga seperti Suriah.