Babak baru upaya denuklirisasi Iran kian terlihat. Setelah serangkaian perundingan tak langsung di Geneva, Oman sebagai mediator utama mengumumkan terobosan besar: Iran sepakat untuk tidak lagi menimbun uranium yang diperkaya. Janji ini dinilai sangat krusial demi memastikan Tehran tidak bisa mengembangkan senjata nuklir dan membuka jalan bagi kesepakatan damai dalam beberapa bulan ke depan.
Kabar mengenai kemajuan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, dalam sebuah wawancara di Washington, DC. Menurut Al Busaidi, kesepakatan untuk tidak menimbun material nuklir yang diperkaya adalah pencapaian paling penting dan belum pernah terjadi sebelumnya. "Jika tujuan utamanya adalah memastikan Iran tidak akan pernah memiliki bom nuklir, saya kira kami telah memecahkan masalah itu melalui negosiasi ini," tegasnya.
Detail dari terobosan tersebut mencakup komitmen Iran untuk menurunkan stok material nuklirnya yang ada saat ini ke level terendah. Material ini akan diubah menjadi bahan bakar yang bersifat tidak dapat diubah kembali, sebuah langkah yang disebut Al Busaidi sebagai hal yang "benar-benar baru" dan membuat argumen pengayaan uranium menjadi kurang relevan.
Selain itu, untuk menjamin kepatuhan, akan ada verifikasi penuh dan komprehensif oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), lembaga pengawas nuklir PBB. Al Busaidi menambahkan bahwa Iran juga menunjukkan keterbukaan untuk mendiskusikan program rudalnya, sebuah isu sensitif yang kerap menjadi batu sandungan dalam perundingan sebelumnya.
Meski progresnya "sangat substansial" dan Al Busaidi optimistis kesepakatan damai dapat dicapai dalam hitungan bulan, beberapa detail memang masih perlu dirampungkan. Namun, ia menekaskan bahwa "gambaran besarnya adalah kesepakatan ada di tangan kita."
Analisis: Sebuah Jaminan Kemanan Regional?
Kesepakatan ini, jika terwujud sepenuhnya, memiliki potensi besar untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah yang telah berlangsung lama. Komitmen Iran untuk "nol penimbunan" uranium yang diperkaya adalah konsesi signifikan yang melampaui beberapa poin dalam kesepakatan nuklir sebelumnya (JCPOA) yang ditinggalkan AS pada 2018. Hal ini bisa menjadi fondasi bagi keamanan regional yang lebih stabil dan mencegah perlombaan senjata nuklir di wilayah tersebut.
Peran Oman sebagai mediator netral sangat krusial dalam membangun kepercayaan antara Washington dan Tehran yang tegang. Namun, tantangan masih membayangi. Presiden AS Donald Trump, yang komentarnya muncul setelah pernyataan Al Busaidi, menyatakan ketidakpuasannya terhadap negosiasi di Geneva. Meskipun Trump juga menegaskan ia mendukung solusi diplomatik, nada skeptisnya menunjukkan bahwa finalisasi kesepakatan mungkin akan berliku dan membutuhkan upaya diplomatik yang lebih intens, terutama mengingat dinamika politik internal AS dan kekhawatiran dari sekutu regional lainnya.
Kesepakatan ini membuka jalan bagi potensi pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran, yang bisa membawa dampak positif pada ekonomi global. Namun, yang terpenting, ini adalah sinyal kuat bahwa diplomasi masih menjadi jalan terbaik untuk mengatasi salah satu krisis geopolitik paling rumit di dunia.