Mulai 1 Maret, puluhan ribu warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur terancam makin menderita. Pemerintah Israel memerintahkan penghentian operasi 37 organisasi bantuan kemanusiaan yang selama ini menjadi tulang punggung penyaluran kebutuhan pokok dan medis. Langkah ini sontak memicu kegeraman dan kekhawatiran global akan dampak yang jauh lebih buruk di wilayah yang sudah porak-poranda.
Kelompok-kelompok bantuan, termasuk raksasa kemanusiaan seperti Oxfam, Doctors Without Borders (MSF), Norwegian Refugee Council (NRC), dan CARE, tak tinggal diam. Mereka kini tengah berjuang di Mahkamah Agung Israel, menuntut penangguhan segera atas kebijakan yang mereka anggap bisa memicu "keruntuhan kemanusiaan" dan "kerusakan tak terpulihkan" bagi ratusan ribu nyawa.
Apa pemicunya? Otoritas Israel meminta organisasi-organisasi ini memperbarui registrasi kerja mereka sejak 30 Desember 2023. Namun, ada syarat berat: mereka harus menyerahkan daftar berisi detail pribadi staf Palestina. Jika tidak dipenuhi, operasi akan dihentikan total per 1 Maret.
Para pegiat kemanusiaan menolak mentah-mentah. Mereka beralasan, mematuhi perintah itu sama saja dengan membahayakan keselamatan staf Palestina mereka, mengkhianati prinsip netralitas organisasi kemanusiaan, dan melanggar hukum perlindungan data Eropa. "Mengubah organisasi kemanusiaan menjadi lengan pengumpul informasi untuk pihak yang berkonflik bertentangan total dengan prinsip netralitas," demikian bunyi petisi mereka.
Kondisi di Gaza, misalnya, sudah teramat parah. Warga sipil sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal di tengah blokade yang terus-menerus dan serangan yang tiada henti di daerah padat penduduk. Di Tepi Barat, situasinya juga memprihatinkan dengan invasi militer, pembongkaran, penggusuran, ekspansi permukiman ilegal, dan kekerasan pemukim yang terus meningkat, mendorong kebutuhan kemanusiaan ke titik kritis.
Data PBB mencatat, sejak perang genosida Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, sebanyak 133 pekerja NGO telah menjadi korban tewas dalam serangan Israel, termasuk 15 staf MSF. Dengan larangan ini, ancaman krisis yang lebih dalam, bahkan bencana kelaparan dan penyakit, membayangi lebih dari 2 juta penduduk Gaza yang mayoritasnya kini menggantungkan hidup dari uluran tangan organisasi bantuan.