Shanghai ā Presiden China Xi Jinping menyerukan kerja sama global dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan menegaskan bahwa teknologi ini tidak boleh dikuasai oleh satu negara saja. Seruan ini disampaikan dalam pidato kuncinya di ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, Jumat (5/7).
Xi menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia (people-centered) dalam pengembangan AI. Ia juga mengumumkan rencana China untuk bekerja sama dengan organisasi internasional, termasuk dari Afrika, Amerika Latin, Asia, dan negara-negara BRICS, guna memberikan akses yang setara bagi negara berkembang. Tujuannya, mencegah terciptanya 'ketidakadilan sejarah baru' di era digital.
Dalam pidatonya, Xi dengan tegas menyatakan, 'Pengembangan AI seharusnya bukan pertunjukan solo satu negara, melainkan simfoni kerja sama internasional.' Ia juga mengkritik kebijakan negara lain yang dianggap terlalu melebarkan konsep keamanan nasional hingga menghambat kemajuan teknologi bersama.
Analisis Dampak: Seruan Xi ini muncul di tengah ketatnya persaingan teknologi dengan Amerika Serikat. Washington dan Uni Eropa baru-baru ini memperketat pembatasan ekspor semikonduktor canggih ke China dengan alasan keamanan nasional. Langkah China untuk membangun ekosistem AI mandiriādari produksi chip hingga aplikasi konsumenāmenunjukkan bahwa Negeri Tirai Bambu serius menyaingi dominasi AS. Data resmi menunjukkan konsumsi harian 'token' AI di China meningkat seribu kali lipat dalam dua tahun terakhir, menandakan adopsi yang masif.
Pakar menilai bahwa meskipun China tertinggal dalam akses ke chip tercanggih, mereka unggul dalam infrastruktur pusat data raksasa yang menjalankan chip AI. Pernyataan Xi ini juga menjadi sinyal diplomatik untuk membangun koalisi negara berkembang melawan hegemoni teknologi Barat.