Presiden AS Donald Trump kembali membuat gebrakan dengan menggunakan wewenang eksekutifnya untuk memblokir sejumlah sanksi terhadap Rusia yang baru saja disahkan Kongres. Dalam perintah eksekutif yang diteken Jumat malam, Trump beralasan bahwa penundaan sanksi tersebut demi 'kepentingan nasional' Amerika.
Padahal, paket sanksi yang dinamai 'Undang-Undang Graham' ini sudah ditandatangani Trump menjadi undang-undang pada September lalu dan dijadwalkan berlaku efektif Minggu ini. UU ini menargetkan ekonomi Rusia secara luas, termasuk memberi kewenangan bagi Trump untuk menjatuhkan tarif hingga 100% pada lima pembeli terbesar minyak dan gas Rusia—yang paling signifikan adalah China dan India. Sanksi ini juga menyasar Presiden Vladimir Putin, pejabat tinggi Rusia, bank, institusi keuangan, serta 'armada bayangan' tanker Rusia yang digunakan untuk mengakali sanksi yang ada.
Langkah kontroversial Trump ini muncul hanya beberapa hari setelah ia menyatakan bahwa AS akan mengimpor diesel dari Rusia. Tujuannya? Menekan harga energi domestik menjelang pemilihan midterm November mendatang. Rencana impor diesel ini sontak memicu kemarahan bipartisan di kalangan legislator AS.
Sebanyak 20 anggota parlemen dari kedua partai telah melayangkan surat kepada Trump, mendesak agar ia menghormati UU tersebut dan menerapkannya secara 'penuh dan setia'. Mereka menilai sanksi ini krusial untuk memaksa Putin serius dalam perundingan damai. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut kesepakatan impor diesel sebagai 'hadiah' bagi Putin dan bentuk 'investasi dalam perang yang harus diakhiri'.
Analisis Dampak: Keputusan Trump ini menciptakan dilema kebijakan luar negeri yang tajam. Di satu sisi, ia berupaya menstabilkan ekonomi domestik AS dengan menekan harga energi jelang pemilu. Namun di sisi lain, langkah ini melemahkan posisi Barat dalam menekan Rusia dan memicu kekhawatiran bahwa AS mengorbankan solidaritas aliansi demi kepentingan politik jangka pendek. Bagi masyarakat global, ketidakpastian ini dapat memengaruhi stabilitas harga energi dan dinamika geopolitik yang lebih luas.