Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini jadi perbincangan hangat menyusul laporan terbaru yang mengungkapkan kenaikan bonus tahunannya hingga 33 persen. Dengan kenaikan ini, total paket gaji yang diterima Infantino mencapai angka fantastis $6 juta, atau sekitar Rp 96 miliar per tahun (kurs Rp 16.000/USD). Peningkatan bonus sebesar 550.000 franc Swiss ini menjadikan bonusnya melonjak menjadi 2,2 juta franc Swiss, meskipun gaji pokoknya tidak berubah di angka 2,6 juta franc Swiss.
Kenaikan signifikan ini bukan tanpa alasan. Bonus Infantino meroket menjelang pagelaran Piala Dunia Klub 2025 di Amerika Serikat, sebuah turnamen besar yang kabarnya didukung penuh oleh dana dari Arab Saudi dan diproyeksikan menyumbang sekitar $2 miliar ke kas FIFA. Peran Infantino dalam ekspansi turnamen ini disebut-sebut menjadi faktor utama di balik kompensasi yang lebih besar.
Ambisi keuangan FIFA sendiri memang tak main-main. Badan sepak bola dunia itu memproyeksikan pendapatan $13 miliar hingga akhir 2026, yang mencakup Piala Dunia Pria di AS, Kanada, dan Meksiko. Lebih jauh lagi, FIFA menargetkan perolehan $14 miliar untuk periode 2027-2030. Angka fantastis ini akan datang dari berbagai event besar seperti edisi kedua Piala Dunia Klub, Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil, serta Piala Dunia Pria 2030 yang digelar di Spanyol, Portugal, Maroko, plus beberapa pertandingan di Argentina, Paraguay, dan Uruguay.
Di tengah gelimang uang ini, FIFA berjanji akan mengalokasikan $2,7 miliar dari pendapatan $14 miliar tersebut sebagai dana pengembangan untuk 211 federasi anggotanya, serta badan-badan sepak bola kontinental dan regional. Jumlah ini diklaim naik 20 persen dibanding periode empat tahun sebelumnya. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah kenaikan dana pengembangan ini sebanding dengan peningkatan pendapatan dan gaji para petinggi, terutama di tengah isu-isu transparansi dan distribusi kekayaan di dunia sepak bola global?
Transparansi mengenai detail gaji para eksekutif dan pejabat terpilih di FIFA sebenarnya sudah diterapkan sejak Infantino terpilih di tahun 2016. Namun, lonjakan gaji presiden di saat FIFA juga semakin kaya raya bisa memicu diskusi lebih lanjut tentang bagaimana prioritas keuangan badan tersebut. Infantino sendiri dijadwalkan akan kembali mencalonkan diri pada pemilihan tahun depan untuk masa jabatan keempat, yang akan memperpanjang kepemimpinannya hingga 15 tahun, yakni sampai 2031, batas maksimal yang diizinkan statuta FIFA.
Kenaikan gaji Infantino dan target pendapatan fantastis FIFA ini menggambarkan betapa besarnya industri sepak bola modern. Namun, ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat dan stakeholder sepak bola untuk terus mengawasi apakah kekayaan yang dihasilkan benar-benar dialokasikan secara adil dan transparan, demi kemajuan sepak bola di seluruh penjuru dunia, bukan hanya demi keuntungan segelintir elite.