Situasi Selat Hormuz kian memanas dan menciptakan 'realitas' baru di panggung geopolitik. Alih-alih membentuk koalisi angkatan laut untuk 'membuka' jalur vital ini seperti yang diinginkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sejumlah negara kini memilih jalan lain: bernegosiasi langsung dengan Iran untuk mendapatkan jaminan keamanan.
Pergeseran strategi ini bukan tanpa alasan. Setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Teheran langsung memanfaatkan keunggulan geografisnya. Iran menguasai pantai utara Selat Hormuz, jalur sempit berukuran 33 kilometer di titik tersempitnya, yang merupakan pintu gerbang bagi 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam global.
Para analis menyebut, posisi strategis ini membuat setiap kapal yang melintas menjadi sasaran empuk serangan dari daratan Iran. Akibatnya, kepercayaan pasar anjlok, premi asuransi meroket, dan lalu lintas maritim sempat lumpuh total setelah sekitar 20 kapal menjadi korban serangan sejak awal 'perang' tersebut. Kondisi ini membuat Iran secara efektif mendikte syarat-syarat pelayaran di Selat Hormuz, menjadikan mereka 'penjaga gerbang' penting di Teluk.
Upaya Trump mengumpulkan dukungan, termasuk peringatan keras kepada anggota NATO, tak membuahkan hasil. Jepang, Australia, Inggris, hingga Jerman menolak terlibat dengan alasan 'ini bukan perang kami'. Sebaliknya, negara-negara seperti India, Pakistan, Turkiye, dan China justru telah sukses melakukan negosiasi langsung dengan Teheran untuk jalur aman kapal-kapal mereka. Bahkan dilaporkan Italia dan Prancis turut menjalin kesepakatan serupa.
Dampak ekonomi global pun tak terhindarkan. Harga minyak mentah telah melonjak di atas $100 per barel, naik lebih dari 20 persen dari harga pra-perang. Sementara itu, harga gas melonjak hingga 40 persen. Situasi ini memaksa banyak negara melepaskan cadangan darurat mereka dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah. Realitas baru ini diperkirakan akan bertahan untuk waktu yang tak menentu, menegaskan posisi Iran yang kian dominan dalam mengontrol jalur energi vital dunia.