DUNIA KEHILANGAN 324 TRILIUN LITER AIR TAWAR SETIAP TAHUN - Berita Dunia
← Kembali

DUNIA KEHILANGAN 324 TRILIUN LITER AIR TAWAR SETIAP TAHUN

Foto Berita

Jakarta, 17 Juni 2025 — Dunia sedang mengalami 'kekeringan kontinental' yang mengkhawatirkan. Sebuah laporan Bank Dunia tahun 2025 mengungkapkan, Bumi kehilangan sekitar 324 triliun liter air tawar setiap tahunnya. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan 280 juta orang selama setahun penuh.

Fenomena ini bukan sekadar musim kemarau biasa. Penyebab utamanya adalah kombinasi antara kekeringan yang semakin parah akibat perubahan iklim dan praktik pengelolaan lahan serta air yang tidak berkelanjutan. Akibatnya, danau-danau besar, sungai-sungai vital, dan waduk di berbagai belahan dunia menyusut drastis, bahkan ada yang hampir hilang sama sekali.

Untuk meningkatkan kesadaran global, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan setiap tanggal 17 Juni sebagai Hari Dunia untuk Memerangi Desertifikasi dan Kekeringan. Momen ini menjadi pengingat bahwa krisis air bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sudah terjadi di depan mata.

Jaringan Al Jazeera mendokumentasikan setidaknya 10 contoh nyata penyusutan sumber air di dunia. Di Amerika Selatan, Sungai Parana—sungai terpanjang kedua setelah Amazon—mengalami penurunan muka air yang dramatis di Pelabuhan Rosario, Argentina. Hal ini mengganggu pengiriman gandum dan pasokan listrik dari Bendungan Itaipu.

Sementara itu, Danau Poopo di Bolivia, yang pernah menjadi danau terbesar kedua di negara itu, kini nyaris menjadi padang garam. Danau Urmia di Iran, yang dulu merupakan danau air asin terbesar di Timur Tengah, kini menyusut hingga kurang dari 10 persen dari ukuran aslinya. Di Chile, Laguna Aculeo yang dulu menjadi tempat rekreasi populer kini mengering total akibat tekanan air yang ekstrem.

Dampak bagi Masyarakat: Krisis ini bukan hanya soal angka. Hilangnya air tawar berarti gagal panen, krisis pangan, hilangnya mata pencaharian nelayan, dan konflik baru untuk memperebutkan sumber daya. Bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan, fenomena ini harus menjadi alarm keras. Jika tren ini terus berlanjut, risiko intrusi air laut ke daratan dan kekeringan di lahan pertanian akan semakin parah, mengancam ketahanan pangan nasional.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook