Pertandingan kriket paling dinanti antara tim raksasa India dan Pakistan, yang sempat terancam boikot, akhirnya dipastikan bergulir di Sri Lanka. Keputusan dramatis pemerintah Pakistan membatalkan perintah boikotnya membawa angin lega bagi International Cricket Council (ICC) dan, yang terpenting, bagi Sri Lanka sebagai tuan rumah.
Sebelumnya, ancaman boikot oleh Pakistan memicu kekacauan dan kekhawatiran akan kerugian besar, terutama bagi Sri Lanka yang tengah berjuang memulihkan ekonominya pasca-krisis 2022. Laga India-Pakistan memang bukan sekadar pertandingan olahraga biasa; ia adalah magnet raksasa yang mendatangkan jutaan pasang mata dan pundi-pundi uang dari seluruh dunia.
Ancaman boikot ini sempat membuat industri pariwisata dan perhotelan Sri Lanka menahan napas. Banyak hotel di Colombo yang tadinya penuh dipesan agen travel India, mendadak sepi karena pembatalan. "Dampakya luar biasa sejak boikot diumumkan," kata Sudarshana Pieris, seorang pelaku sektor perhotelan Sri Lanka. Namun, setelah negosiasi intens selama seminggu, pemerintah Pakistan akhirnya mencabut boikot tersebut. Sontak, harga kamar hotel bintang lima di Colombo melonjak hingga 300-400 persen!
Pertandingan yang akan digelar di R Premadasa International Cricket Stadium di Colombo hari Minggu ini pun menjadi berkah tak terduga. Sri Lanka berharap bisa meraup keuntungan finansial besar dari lonjakan turis India dan Pakistan. Ribuan penggemar yang datang tidak hanya akan memenuhi stadion dan hotel, tetapi juga membanjiri bisnis lokal, mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran kelas atas. Ini diharapkan tidak hanya menjadi keuntungan jangka pendek, tetapi juga mempromosikan Sri Lanka sebagai destinasi wisata jangka panjang, membantu pemulihan ekonomi negara pulau tersebut.
Momen ini mengingatkan pada tahun 1996, ketika India dan Pakistan pernah bersatu membentuk tim gabungan untuk mendukung Sri Lanka melawan ancaman boikot Piala Dunia Kriket. Solidaritas kala itu sangat kontras dengan ancaman boikot baru-baru ini. Namun, terlepas dari tensi yang kadang membayangi, kekuatan ekonomi dan daya tarik olahraga terbukti mampu menjembatani perbedaan, setidaknya untuk sementara, demi keuntungan bersama. Bagi Sri Lanka, ini adalah momentum emas untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka siap bangkit dan menyambut kembali wisatawan.