Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sesumbar bahwa negaranya sedang “menembus batas dalam setiap arti kata” dan berupaya memperluas “zona penyangga” dari Lebanon. Pernyataan ini muncul di tengah intensifikasi serangan Israel ke Lebanon yang dimulai awal Maret. Serangan ini pecah setelah kelompok Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel.
Aksi Hizbullah sendiri dikaitkan dengan konflik regional yang memanas antara Israel dengan kelompok pro-Iran yang didukung Teheran, di mana Amerika Serikat juga memiliki kepentingan strategis. Upaya Israel untuk membentuk zona penyangga secara sepihak ini, yang berarti mengambil atau mengontrol wilayah di dalam kedaulatan Lebanon, berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Langkah ini jelas melanggar kedaulatan Lebanon dan bisa memperparah krisis kemanusiaan, serta memicu gelombang pengungsian di wilayah perbatasan. Ketegangan yang terus memuncak ini menjadi sinyal buruk bagi stabilitas regional, mengancam prospek perdamaian jangka panjang.