TELUK MEMANAS: KRISIS ENERGI GLOBAL TAK TERHINDARKAN? - Berita Dunia
← Kembali

TELUK MEMANAS: KRISIS ENERGI GLOBAL TAK TERHINDARKAN?

Foto Berita

Kondisi di Teluk memanas! Serangan drone kembali menghantam kilang minyak terbesar Kuwait, Mina al-Ahmadi, selama dua hari berturut-turut. Ini jadi bagian dari gempuran Iran terhadap infrastruktur energi di seluruh kawasan Teluk. Tak hanya itu, ledakan juga dilaporkan terdengar di langit Teheran, Ibu Kota Iran, akibat serangan Israel bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Persia.

Serangan pada Jumat pagi, saat Kuwait merayakan Idulfitri, memicu kebakaran di beberapa unit kilang Mina al-Ahmadi yang memproses sekitar 730.000 barel minyak per hari. Perusahaan minyak nasional Kuwait memang memastikan tidak ada korban jiwa, namun beberapa unit harus ditutup. Militer Kuwait pun menyatakan sistem pertahanan udaranya sigap mencegat ancaman rudal dan drone yang masuk.

Gempuran Iran ini bukanlah tanpa sebab. Ini adalah balasan atas serangan Israel awal pekan ini terhadap ladang gas South Pars, ladang gas terbesar Iran yang memasok sekitar 80 persen kebutuhan gas domestik mereka. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim tak hanya menargetkan fasilitas di Teluk, tapi juga menghantam pasukan Amerika Serikat di pangkalan udara al-Dhafra, UEA, serta beberapa lokasi di Israel. UEA dan Bahrain juga melaporkan adanya ancaman rudal dan drone. Bahrain bahkan menemukan pecahan proyektil dari yang mereka sebut "agresi Iran" yang memicu kebakaran gudang. Sementara itu, Arab Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan lebih dari selusin drone hanya dalam waktu dua jam.

Dampak serangan ini sangat parah. Terminal gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, Ras Laffan di Qatar, mengalami kerusakan serius akibat serangan Iran. Ini mengakibatkan hilangnya sekitar 17 persen pasokan LNG global dan diperkirakan merugikan sekitar 20 miliar dolar AS per tahun. CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, menyebut perbaikan bisa memakan waktu tiga hingga lima tahun, bahkan menilai tingkat kehancuran ini memundurkan kawasan "10 hingga 20 tahun".

Situasi makin genting dengan ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia. Akibatnya? Harga energi global meroket dan pasokan berbagai komoditas penting, mulai dari chip komputer hingga pupuk, ikut tersendat. Beberapa negara di Asia sudah mulai memberlakukan penjatahan listrik dan memangkas jam kerja perkantoran.

Mujtaba Rahman, Direktur Pelaksana konsultan risiko politik Eurasia Group, kepada Al Jazeera menilai konflik ini "memasuki fase eskalasi". Ia memperingatkan bahwa Asia dan Eropa akan merasakan dampak terberat, tergantung "seberapa lama perang ini berlanjut". Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sudah memberikan sinyal bahaya, menyebut serangan ke infrastruktur Teluk baru "sebagian kecil" dari kemampuan Iran dan mengancam "tanpa ampun" jika fasilitas energi Iran kembali diserang.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan Israel bertindak sendiri dalam menyerang South Pars. Ia juga menyatakan Israel menunda serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi atas permintaan Presiden AS Donald Trump, yang memang sempat menjauhkan diri dari serangan awal.

Analisis menunjukkan, konflik ini bukan sekadar ketegangan regional biasa. Ini adalah ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dan energi global. Dengan kerugian ekonomi yang masif dan gangguan rantai pasok yang meluas, dunia harus bersiap menghadapi gejolak besar jika eskalasi ini terus berlanjut tanpa kendali.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook