EKSPOR CHINA MENGGELEGAR, RAKYATNYA JUSTRU TERJEBAK RESESI - Berita Dunia
← Kembali

EKSPOR CHINA MENGGELEGAR, RAKYATNYA JUSTRU TERJEBAK RESESI

Foto Berita

Beijing, 16 Juli 2024 – Perekonomian China menunjukkan paradoks yang tajam pada kuartal II 2024. Di satu sisi, mesin ekspor berputar kencang, didorong oleh booming kecerdasan buatan (AI) dan permintaan tinggi untuk mobil listrik buatan China. Namun di sisi lain, pertumbuhan ekonomi domestik justru melambat ke angka 4,3 persen—terendah dalam tiga tahun terakhir—jauh dari target 5 persen yang ditetapkan pemerintah.

Data mengejutkan datang dari neraca perdagangan. Pada Juni 2024, surplus perdagangan China mencapai rekor 125,6 miliar dolar AS, naik dari 105,4 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Ekspor melonjak 27 persen dibanding tahun lalu. Namun, para analis memperingatkan bahwa keberhasilan ini justru menjadi 'senjata makan tuan' karena menekan mitra dagang China dan mengorbankan kesejahteraan rakyatnya sendiri.

“Angka-angka ini menunjukkan dua sisi mata uang. Ada sektor ekspor yang booming, tapi konsumsi domestik tetap lesu,” ujar Vina Nadjibulla, Wakil Presiden Asia Pacific Foundation of Canada. Ia menambahkan, lonjakan ekspor ini akan memicu tekanan dari negara-negara mitra dagang yang meminta China memperbaiki ketidakseimbangan perdagangan.

Di dalam negeri, situasi justru suram. Sektor properti yang selama ini menjadi andalan tabungan masyarakat kolaps dalam beberapa tahun terakhir. Juliet Lu, asisten profesor dari University of British Columbia, menjelaskan bahwa masyarakat China terpaksa mengikat kekayaan mereka pada properti yang nilainya anjlok. “Antara kerugian properti dan dampak pandemi COVID-19, masyarakat menjadi sangat konservatif dalam berbelanja. Warga biasa terhimpit. Barang murah dan ekspor besar-besaran terjadi dengan mengorbankan kesejahteraan pekerja China,” tegasnya.

Masalah paling kritis adalah lapangan kerja. Reza Hasmath, penasihat akademik di The China Institute, University of Alberta, menyebutkan bahwa mesin ekspor memang 'panas membara', tetapi penciptaan lapangan kerja justru mandek. “Kita melihat generasi muda di bawah 25 tahun prospek pekerjaan layaknya menurun drastis. Mereka akan mengalami setengah pengangguran atau pengangguran total, dengan pendapatan yang tertekan. Kelompok usia inilah yang paling merasakan dampak buruk masalah ekonomi ini,” ujar Hasmath.

Ia memperingatkan jika China terus bergantung pada booming ekspor teknologi tanpa mendorong pertumbuhan domestik, dampaknya akan meluas ke seluruh kelompok usia. “Maka Anda akan melihat kelompok usia lainnya juga ikut merasakannya,” pungkasnya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook