Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mendatangkan solar dari Rusia menuai kontroversi panas di Washington. Langkah ini diambil di tengah melonjaknya harga bahan bakar global akibat perang antara AS-Israel melawan Iran yang dimulai akhir Februari lalu.
Dalam pengumuman resminya, Trump menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin telah setuju mengirim 300.000 ton solar segera ke pasar Amerika dan global. Kerja sama ini akan berlanjut dengan pasokan 500.000 ton pada November, satu juta ton berikutnya, dan berpotensi mencapai tiga juta ton per bulan di masa depan. Trump beralasan langkah ini demi menekan harga bahan bakar yang membebani petani, peternak, dan pengemudi truk di AS.
Namun, manuver ini dinilai menusuk kebijakan luar negeri AS sendiri. Beberapa minggu sebelumnya, Trump baru saja menandatangani undang-undang yang memberlakukan sanksi baru terhadap negara-negara pengimpor minyak dan gas Rusia. Kini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa sanksi terhadap ekspor solar Rusia ditangguhkan hingga 7 April sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, meski aset bank Rusia lainnya masih dibekukan.
Reaksi keras datang dari parlemen. Tujuh senator lintas partaiāempat dari Partai Republik dan tiga dari Demokratāmenuduh kesepakatan ini melanggar hukum AS. Mereka mendesak Trump untuk membatalkan kebijakan tersebut, menegaskan bahwa Kongres telah secara eksplisit melarang impor energi Rusia sejak 2022 untuk mencegah dolar AS membiayai perang Putin terhadap Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky turut mengecam kesepakatan ini sebagai 'hadiah' bagi Putin dan bentuk investasi dalam perang yang seharusnya dihentikan. Di sisi lain, Trump berdalih bahwa prioritas utamanya adalah menurunkan harga bagi rakyat Amerika, terutama menjelang pemilihan sela (midterms) yang semakin dekat.