AS ANCAM CABUT DUKUNGAN KE SEKUTU NATO YANG 'NGEBON' - Berita Dunia
← Kembali

AS ANCAM CABUT DUKUNGAN KE SEKUTU NATO YANG 'NGEBON'

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberi peringatan keras kepada sekutu-sekutu NATO yang dinilainya hanya 'nebeng' alias gratis dalam urusan pertahanan. Dalam pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussel, Hegseth mengumumkan akan ada evaluasi besar-besaran selama enam bulan terhadap kekuatan militer AS di Eropa.

"Beberapa negara akan gagal, dan yang lain akan lulus dengan gemilang," ujar Hegseth, Senin (17/2). Ia secara spesifik menyoroti negara-negara anggota yang membatasi bantuan ke pasukan AS selama perang dengan Iran. Hegseth menyebut era 'free-riding' atau menumpang gratis harus segera berakhir.

Evaluasi yang disebut 'NATO 3.0' ini bertujuan memastikan negara-negara Eropa bisa lebih mandiri dalam menjaga keamanan kawasan. AS mendesak anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dengan rincian 3,5 persen untuk pertahanan inti dan 1,5 persen untuk infrastruktur terkait.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengakui belanja pertahanan negara-negara anggota sudah naik 90 miliar dolar AS tahun lalu. Namun ia juga mengakui tidak semua kemampuan militer yang ditarik AS bisa digantikan sepenuhnya oleh Eropa. Langkah pengurangan ini sudah mulai berlaku dan mencakup kemampuan udara dan angkatan laut.

Yang menarik, Menteri Pertahanan Inggris Dan Jarvis menghadiri KTT ini tanpa membawa rencana investasi pertahanan Inggris. Pendahulunya, John Healey, mengundurkan diri karena menilai rencana tersebut 'jauh dari cukup' untuk melindungi Inggris. Ini menunjukkan krisis kepercayaan di internal sekutu terdekat AS sekalipun.

Analisis Dampak: Langkah AS ini jelas mengirim sinyal keras ke Eropa: jangan terus bergantung pada Paman Sam. Bagi Indonesia, situasi ini patut dicermati. Jika AS mengurangi fokus militernya di Eropa, kemungkinan besar mereka akan mengalihkan perhatian ke kawasan Indo-Pasifik. Ini bisa berdampak pada dinamika keamanan di Laut China Selatan dan kawasan sekitar Indonesia. Selain itu, kebijakan 'America First' ala Trump yang kembali digaungkan Hegseth menandakan era isolasionisme AS yang lebih agresif, yang bisa mengubah peta aliansi global secara drastis.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook