Nyaris empat tahun invasi Rusia ke Ukraina bergulir, kini konflik tersebut bahkan lebih panjang dari keterlibatan Rusia di Perang Dunia II. Operasi militer khusus yang disebut Kremlin ini, menurut data independen dari BBC dan MediaZona, telah menelan korban militer Rusia yang sangat besar, mencapai 186.000 jiwa. Angka ini 13 kali lipat lebih banyak dari kerugian Uni Soviet selama satu dekade perang di Afghanistan. Namun, di tengah semua itu, bagaimana sebenarnya wajah kehidupan masyarakat Rusia berubah? Ternyata, ada dua sisi yang sangat berbeda.
Bagi warga yang tinggal di wilayah perbatasan Rusia dengan Ukraina, seperti Kursk dan Belgorod, ancaman perang adalah bagian dari keseharian. Mereka harus menghadapi serangan artileri, drone, dan bahkan pernah mengalami serangan darat dari pasukan Ukraina yang sempat menguasai sebagian wilayah Kursk. Ratusan warga sipil di Belgorod juga menjadi korban tewas. Uniknya, di tengah situasi genting ini, warga setempat mengaku terpaksa 'membiasakan diri' agar hidup tetap berjalan normal, daripada terus-menerus berlindung.
Namun, suasana jauh berbeda terlihat di kota-kota metropolitan besar seperti Moskow dan St. Petersburg. Di sana, geliat perang nyaris tak terasa secara langsung. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara Barat pun, menurut warga, lebih diartikan sebagai 'ketidaknyamanan' saja. Memang, beberapa merek asing favorit jadi langka dan harga barang merangkak naik, membuat pengeluaran belanja terasa lebih mahal. Namun, anehnya, daya beli warga Moskow masih tampak kuat, dengan restoran, taksi, dan layanan antar tetap ramai beroperasi.
Fenomena dua wajah kehidupan di Rusia ini menarik untuk dicermati. Kontras tajam antara wilayah perbatasan yang bergejolak dan kota metropolitan yang relatif tenang menunjukkan strategi Kremlin dalam menjaga stabilitas internal di pusat-pusat kekuasaan. Meski ada korban jiwa massal dan kesulitan ekonomi mikro, dukungan publik terhadap 'operasi khusus' ini ternyata tetap tinggi. Ini bisa menjadi cerminan dari narasi resmi pemerintah yang kuat atau mungkin minimnya informasi tandingan yang sampai ke masyarakat luas, menciptakan realitas yang berbeda bagi masing-masing warga.