Kelompok supremasi kulit putih yang paling dibenci di Amerika Serikat, Ku Klux Klan (KKK), tengah berupaya keras mengubah citra mereka. Mereka kini memperkenalkan diri sebagai 'The Knights Party' atau Partai Kesatria. Langkah rebranding ini bukan tanpa alasan; mereka berambisi memperluas basis massa di tengah gelombang kebangkitan supremasi kulit putih yang disebut-sebut turut dipicu oleh pengaruh tokoh politik arus utama.
Perubahan nama ini terungkap dalam liputan jurnalis Al Jazeera, Phil Lavelle, yang menyambangi markas mereka di Boone County, Arkansas. Thomas Robb, pemimpin kelompok yang dulunya bernama Knights of the Ku Klux Klan, mengklaim bahwa pihaknya kini ingin fokus pada isu keluarga dan iman. Ia bahkan telah mengubah jabatannya dari 'Grand Wizard' menjadi 'National Director' dan membuka keanggotaan via surat untuk menjaga kerahasiaan.
Namun, upaya pencitraan ini terbongkar saat Robb ditanya apakah seorang kulit hitam diperbolehkan masuk ke gereja mereka. Dengan tegas Robb menjawab, 'Tidak. Karena ini adalah gereja nasionalis kulit putih.' Jawaban ini membuktikan bahwa meski kemasan berubah, ideologi rasisme dan kebencian mereka tidak bergeser sedikitpun.
Analisis Dampak: Fenomena ini menunjukkan bahwa rasisme di AS tidak lagi selalu tampil dengan jubah putih dan topeng runcing yang ikonik. Mereka kini bertransformasi menjadi entitas yang lebih 'sopan' di permukaan untuk menarik simpati publik. Hal ini berbahaya karena bisa membuat ideologi supremasi kulit putih terlihat lebih mainstream dan dapat diterima. Data dari Public Religion Research Institute menunjukkan bahwa 32% orang dewasa AS masih mempercayai 'Great Replacement Theory', sebuah teori konspirasi yang menyatakan bahwa imigran dan kelompok non-kulit putih berusaha menggantikan budaya kulit putih. Angka ini menunjukkan bahwa lahan subur untuk kelompok seperti 'The Knights Party' masih sangat luas, diperparah dengan retorika politik yang menganggap imigrasi sebagai 'invasi'.