Jakarta, Media Online β Dunia keamanan siber kembali diguncang. Kelompok ransomware World Leaks membocorkan ribuan file yang diduga merupakan cetak biru dan data sensitif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kudankulam, fasilitas nuklir terbesar di India. Peristiwa ini terungkap setelah laporan dari kantor berita Reuters pada Kamis (24/10).
Kelompok peretas tersebut mengunggah hampir 19.000 file berukuran 14,3 gigabyte di web gelap. File-file itu mencakup cetak biru bagian-bagian pabrik, detail pemasok, catatan rapat, hingga dokumen asuransi yang berasal dari tahun 2016 hingga pertengahan 2025. Data ini diklaim berasal dari Reliance Group, konglomerasi milik pengusaha Anil Ambani yang menjadi kontraktor proyek PLTN tersebut.
Menanggapi hal ini, Nuclear Power Corporation of India (NPCIL) selaku operator PLTN menyatakan bahwa kebocoran data tidak mengungkap informasi sensitif terkait keamanan nuklir. Namun, kekhawatiran justru datang dari para pakar. Nickolas Roth, Direktur Senior Nuclear Threat Initiative, menyebut kebocoran ini bisa menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan pabrik.
βData seperti cetak biru dan spesifikasi teknis, jika jatuh ke tangan yang salah, bisa digunakan untuk memetakan titik lemah keamanan fisik maupun digital sebuah fasilitas vital,β ujar Roth kepada Reuters.
Di sisi lain, Reliance Group mengkonfirmasi telah terjadi pelanggaran data parsial pada server yang dikelola pusat data pihak ketiga, Yotta. Pemerintah India, melalui badan siber CERT-In, kini tengah menyelidiki insiden ini. Pelanggaran ini menjadi alarm keras bagi India, di mana serangan ransomware semakin marak dan banyak perusahaan dinilai belum siap menghadapi ancaman siber modern.