Kabar mengejutkan datang dari Washington! Pentagon, markas besar pertahanan Amerika Serikat, dilaporkan tengah menyiapkan rencana operasi darat terbatas di Iran. Rencana ini, yang mencakup serangan di Pulau Kharg dan area strategis di dekat Selat Hormuz, sontak memicu kegaduhan di lingkaran politik AS.
Anggota DPR AS dari Partai Republik, Nancy Mace, secara tegas menyuarakan kekhawatirannya. Menurut Mace, jika operasi darat konvensional yang melibatkan Marinir dan pasukan lintas udara 82nd Airborne Division benar-benar akan diluncurkan, maka Kongres harus dilibatkan dan diberikan penjelasan yang memadai. Ia menekankan bahwa pengerahan pasukan darat merupakan 'garis merah' yang tidak bisa dilangkahi tanpa persetujuan legislatif.
Gedung Putih, melalui juru bicaranya Karoline Leavitt, tidak membantah laporan ini. Namun, Leavitt menjelaskan bahwa Pentagon memang rutin menyiapkan berbagai opsi militer untuk Presiden. Ini semata untuk memberikan 'fleksibilitas maksimum' bagi panglima tertinggi, bukan berarti Presiden sudah mengambil keputusan final.
Bagi Presiden Donald Trump, keputusan untuk mengerahkan pasukan darat ke Iran bisa menjadi 'taruhan politik besar'. Selama ini, Trump dikenal dengan strategi 'America First' yang cenderung menghindari keterlibatan militer jangka panjang di luar negeri. Meski banyak pihak di Partai Republik mendukung operasi militer di Iran, pengerahan pasukan darat bisa menguji kesetiaan mereka, mengingat adanya kekhawatiran tentang potensi perang yang berlarut-larut.
Analis militer sebelumnya telah mengingatkan bahwa meskipun kemampuan militer Iran mungkin telah berkurang akibat serangan udara sejak perang AS-Israel dimulai 28 Februari lalu, negara itu masih memiliki kapasitas untuk membalas dan membangun kembali kekuatannya. Serangan udara saja dinilai memiliki keterbatasan untuk sepenuhnya melumpuhkan militer Iran atau mencapai perubahan rezim yang komprehensif. Jika AS benar-benar melangkah ke operasi darat, ini akan menjadi eskalasi konflik yang signifikan, berpotensi menyeret Amerika ke dalam konflik yang lebih dalam dan rumit, serta menimbulkan dampak geopolitik yang luas di kawasan.