Pemerintah Iran resmi mengeksekusi tiga pria yang dituduh melakukan kerusuhan bersenjata saat gelombang protes anti-pemerintah pada Januari lalu. Ketiganya adalah Hassan Dioband, Hamid Kazemi, dan Reza Zanganeh. Mereka dinyatakan bersalah karena melempar bom molotov dan granat, menggunakan senjata tajam serta senjata api, dan membakar fasilitas publik di Kota Karaj, sebelah barat Teheran.
Media negara Iran, Tasnim, melaporkan bahwa eksekusi dilakukan setelah Mahkamah Agung menguatkan putusan pengadilan. Ketiganya dianggap terbukti melakukan 'kegiatan operasional' untuk kepentingan rezim Zionis Israel, Amerika Serikat, dan kelompok-kelompok bermusuhan. Salah satu kerusakan yang disebut adalah gardu listrik di Karaj yang menyebabkan pemadaman di sejumlah wilayah.
Kasus ini bukan yang pertama. Sejak gelombang protes yang awalnya dipicu kenaikan harga kebutuhan pokok pada Desember lalu, otoritas Iran tercatat telah mengeksekusi sejumlah orang dengan tuduhan serupa. Situasi makin memanas setelah serangan Israel-AS ke Iran dimulai akhir Februari, yang diikuti lonjakan angka eksekusi.
Data Amnesty International mencatat Iran mengeksekusi sedikitnya 2.159 orang sepanjang tahun lalu, angka tertinggi sejak 1981. Dari jumlah itu, 45 di antaranya adalah dugaan pembangkang yang dihukum dengan tuduhan keamanan nasional. Komisioner HAM PBB Volker Türk menyebut setidaknya 56 orang telah dieksekusi dengan tuduhan terkait keamanan nasional sejak 19 Maret, termasuk 27 kasus yang berkaitan dengan protes Januari.
Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 3.000 orang tewas dalam kerusuhan dan menyalahkan 'tindakan teroris' yang didalangi AS dan Israel. Namun sejumlah LSM internasional meragukan angka itu dan menilai jumlah korban sebenarnya lebih tinggi. BBC bahkan menerima kesaksian warga Iran yang menyebut aparat keamanan menembaki pengunjuk rasa tak bersenjata.
Dampak bagi Masyarakat: Gelombang eksekusi ini berpotensi memicu ketakutan luas di kalangan warga sipil, terutama aktivis dan keluarga korban. Di sisi lain, langkah represif ini bisa memperkuat solidaritas gerakan protes sekaligus memperburuk citra Iran di mata dunia internasional. Bagi masyarakat global, fenomena ini menjadi pengingat bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada nyawa warga biasa.