Di tengah puing-puing kota Gaza yang luluh lantak, harapan akan rekonstruksi menyeluruh masih jauh panggang dari api. Warga terpaksa mencari cara untuk membangun kembali hidup mereka, seringkali dengan bahan-bahan seadanya dan kreativitas luar biasa. Kisah Mohammed al-Jadba menjadi gambaran nyata perjuangan itu, di mana rumah bukan lagi soal beton dan semen, melainkan tentang upaya keras bertahan hidup.
Mohammed al-Jadba, seorang pria berusia 31 tahun, tidak punya banyak pilihan. Rumah empat lantai miliknya di permukiman Tuffah, Kota Gaza, kini tinggal puing. Bersama 10 anggota keluarganya, ia bertahan di tenda seadanya di samping reruntuhan. Setelah musim dingin yang basah dan dingin, Mohammed memutuskan untuk membangun tempat tinggal yang lebih permanen. Bukan dengan semen atau bata, melainkan dengan apa pun yang bisa ia selamatkan.
Material konstruksi standar seperti semen tak bisa masuk ke Gaza akibat pembatasan Israel. Alhasil, Mohammed memanfaatkan batu-batu dari reruntuhan rumahnya dan lumpur sebagai perekat. Awalnya hanya ingin satu kamar, namun lambat laun idenya berkembang. Ia mengumpulkan rangka besi, kusen jendela, dan pintu bekas. Tantangan muncul saat ia membutuhkan jerami untuk campuran lumpur agar lebih kuat, tapi jerami juga langka. Mohammed pun menemukan solusi tak terduga: rambut manusia. Dikumpulkan dari tukang cukur, campuran lumpur dan rambut ini ternyata membuat dinding lebih kokoh dari yang ia kira.
Bagi Mohammed, membangun rumah bukan sekadar tempat bernaung, melainkan juga demi keamanan. Pasukan Israel yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempatnya terus menembak setiap hari. Ibunya bahkan sempat terluka oleh peluru nyasar yang menembus tenda mereka, mendorong Mohammed mempercepat pembangunan. 'Tenda itu berbahaya; tidak melindungi maupun menaungi,' ujarnya, mengenang tetangganya yang tewas tertembak saat tidur. Ini bukan solusi permanen, ia tahu itu. Tapi, apa lagi yang bisa dilakukan?
Rekonstruksi Gaza yang sangat dibutuhkan seolah hanya angan-angan. Mohammed dan warga lainnya merasa frustrasi. 'Siapa pun yang mengikuti apa yang terjadi di Gaza tahu bahwa rekonstruksi adalah mimpi yang sangat jauh... bahkan kebohongan,' katanya. Menurut perkiraan PBB, proses pemindahan puing saja bisa memakan waktu lima tahun dan sampai sekarang belum juga dimulai. Kondisi ini membuat warga Gaza terperangkap dalam lingkaran kehancuran dan ketidakpastian, memaksa mereka beradaptasi dengan cara-cara yang tak terbayangkan hanya untuk bertahan hidup sehari-hari.