Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat langkah tak biasa menjelang Pemilu Sela (midterm) 2026. Dengan sisa waktu kurang dari lima hari, Trump memutuskan untuk mengurangi jadwal kampanye fisiknya yang padat. Ia secara resmi membatalkan kehadiran di Iowa dan Kansas, dan memilih beralih ke metode kampanye virtual.
Komite Nasional Partai Republik (RNC) mengonfirmasi pembatalan tersebut dan memperkenalkan strategi 'tele-rally' atau rapat umum melalui siaran virtual. Ketua RNC, Joe Gruters, membela langkah ini dengan alasan efisiensi. Menurutnya, siaran virtual ini mampu menjangkau lebih banyak pemilih di seluruh negeri dibandingkan harus melakukan perjalanan darat dari satu kota ke kota lain.
Strategi '72 jam terakhir' ini akan disiarkan ke hampir 20 negara bagian, termasuk wilayah kunci (battleground states) seperti Michigan, Alaska, Texas, dan Iowa. Meski demikian, satu agenda kampanye fisik tetap berjalan sesuai rencana, yaitu rapat umum di Daytona Beach, Florida, pada hari Jumat mendatang.
Pemilu Sela 3 November nanti akan menjadi penentu komposisi Kongres. Saat ini, Partai Republik memegang mayoritas tipis di Senat (53 dari 100 kursi) dan DPR (218 kursi). Trump sendiri menyuarakan kekhawatiran bahwa jika Partai Demokrat menang besar, mereka berpotensi melancarkan impeachment (pemakzulan) untuk ketiga kalinya terhadap dirinya.
Berbagai lembaga survei memprediksi Partai Demokrat memiliki keunggulan dalam siklus pemilu kali ini. Model peramalan dari Universitas Harvard, ElectIt, bahkan memperkirakan Demokrat memiliki peluang 94 persen untuk menguasai DPR, meskipun pertarungan di Senat diprediksi masih berimbang. Penurunan angka survei Trump terkait isu biaya hidup dan kebijakan luar negeri menjadi faktor utama yang membayangi elektabilitas Partai Republik.