Badan imigrasi Amerika Serikat, ICE, menolak rekomendasi pemerintah untuk mewajibkan kamera bodi yang menyala otomatis pada agennya. Penolakan ini menuai kritik karena terjadi di tengah gelombang deportasi massal era Trump yang rawan kekerasan.
Lembaga pengawas pemerintah, GAO, merekomendasikan fitur aktivasi otomatisāyang bisa dipicu saat agen mencabut senjata atau menyalakan sireneāuntuk mencegah agen lupa menyalakan kamera secara manual saat operasi lapangan. Namun, ICE beralasan privasi menjadi hambatan utama.
Penolakan ini kontras dengan tekanan publik yang meningkat. Sejak awal periode kedua Trump, diperkirakan terjadi puluhan penembakan oleh agen imigrasi, dengan korban tewas dan luka. Beberapa kasus menuai sorotan karena rekaman video justru membantah klaim agen soal serangan terhadap mereka, memicu tuduhan kekerasan berlebihan dan pelanggaran hak sipil.
Dampaknya, transparansi operasi imigrasi semakin dipertanyakan. Tanpa kamera otomatis, sulit memverifikasi insiden di lapangan, sementara korban dan keluarga kehilangan bukti visual yang krusial. Publik pun semakin skeptis terhadap akuntabilitas agen.