Publik Serbia kembali digegerkan dengan skandal kekerasan aparat. Sebanyak sembilan polisi aktif dan satu mantan anggota kepolisian resmi ditahan pada Rabu (22/10) waktu setempat. Mereka dituduh melakukan penyiksaan brutal terhadap sejumlah orang di dalam garasi sebuah kompleks pemerintahan di Beograd.
Berdasarkan pernyataan Kementerian Dalam Negeri Serbia, insiden tersebut terjadi pada Agustus 2025. Saat itu, para tersangka yang sedang bertugas disebut menggunakan kekerasan dan ancaman untuk memaksa keterangan, mengintimidasi, serta menghukum korban secara ilegal. Ironisnya, salah satu tersangka yang ditahan merupakan Komandan Unit Antiterorisme Khusus, Igor Zmiric.
Kasus ini mencuat di tengah gelombang protes antikorupsi yang dipicu oleh tragedi runtuhnya kanopi Stasiun Kereta Api Novi Sad pada November 2024 silam. Insiden yang menewaskan 16 orang itu dianggap sebagai bukti nyata praktik korupsi sistemik di era kepemimpinan Aleksandar Vucic. Tekanan publik kian memuncak setelah mahasiswa dan demonstran berhasil memaksa Vucic mundur dari kursi presiden pada pemilu Oktober lalu.
Dampaknya bagi masyarakat, aksi penangkapan ini menjadi ujian kredibilitas janji reformasi institusi kepolisian. Kelompok demonstran menuntut transparansi penuh dan pembersihan internal di tubuh kepolisian serta dinas intelijen. Sementara itu, langkah Serbia membersihkan institusinya akan sangat menentukan peluang negara tersebut untuk melanjutkan negosiasi akses masuk ke Uni Eropa, yang sempat terbuka kembali setelah pergantian kekuasaan.