Gelombang protes mahasiswa yang awalnya meletus di Prancis pada September lalu kini telah menyebar ke lebih dari 11 negara Eropa. Pemicunya jelas: harga sewa dan bahan bakar yang melambung tinggi, ditambah pemangkasan layanan publik yang membuat hidup semakin sulit.
Data terbaru Bank Sentral Eropa (ECB) mengungkap realitas pahit di balik kemarahan ini. Rumah tangga yang dikepalai seseorang berusia di bawah 35 tahun hanya memiliki kekayaan bersih median sekitar 25.000 euro (sekitar Rp430 juta). Angka ini sangat kontras dengan kelompok usia 55-64 tahun yang rata-rata mengantongi 208.000 euro (sekitar Rp3,6 miliar)โlebih dari delapan kali lipat.
Yang lebih mencengangkan, kelompok muda ini hanya menguasai 2,8 persen dari total kekayaan rumah tangga di 22 negara Eropa. Sementara itu, kelompok usia 55-64 tahun menikmati porsi terbesar, yakni 24 persen. Ketimpangan ini paling parah terlihat di Finlandia, di mana kaum muda hanya memiliki 0,8 persen kekayaan, sementara kelompok di atas 55 tahun menguasai lebih dari 71 persen.
Evelyn Astor dari European Social Observatory menyoroti lonjakan harga properti, baik sewa maupun beli, sebagai biang keladi utama. Menurutnya, situasi ini memperparah rasa ketidakadilan karena keluarga biasa kesulitan membayar sewa atau membeli rumah, sementara orang kaya dengan modal besar justru bisa meraup untung dari investasi di pasar properti Eropa.
Sejak tahun 2000, harga barang dan jasa kebutuhan sehari-hari di zona euro, Hongaria, dan Ceko telah melonjak 67,2 persen. Hongaria mencatat kenaikan paling ekstrem dengan harga yang naik lebih dari tiga kali lipat. Banyak anak muda kini pesimis; mereka merasa tidak akan pernah mencapai taraf hidup yang lebih baik daripada orang tua mereka.