Suasana hening menyelimuti Ras Ein al-Auja, desa di Tepi Barat yang dulunya ramai. Tapi keheningan ini bukanlah tanda kedamaian, melainkan sisa-sisa dari sebuah 'penghapusan' yang menyakitkan. Perlahan tapi pasti, salah satu komunitas penggembala Palestina terakhir ini dipaksa menyerah pada kekerasan para pemukim ilegal Israel, mengubah rumah-rumah menjadi puing dan kehidupan menjadi kenangan.
Ketika alunan musik para pemukim Israel berhenti, Naif Ghawanmeh, 45, duduk di depan api unggun. Malam itu dingin, dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, semuanya terasa sunyi. Perayaan para pemukim itu telah usai untuk hari ini. Namun, desanya, Ras Ein al-Auja, yang terletak di wilayah Jericho, Tepi Barat bagian timur, praktis telah lenyap.
Desa ini dulunya adalah salah satu komunitas penggembala Palestina terakhir di Lembah Yordan. Kini, domba-domba para penggembala itu raib—kebanyakan dicuri atau diracuni para pemukim ilegal, atau terpaksa dijual oleh penduduk di bawah tekanan. Sumber air mereka diputus; mata air Ras Ein dinyatakan terlarang oleh pemukim tetangga sejak setahun terakhir. Dan selama dua minggu terakhir, sebagian besar rumah warga telah dibongkar.
Banyak keluarga yang terpaksa pergi bahkan membakar perabotan mereka sebelum meninggalkan rumah, tak ingin meninggalkannya untuk digunakan para pemukim yang 'menginvasi'. “Demi Tuhan, ini perasaan yang sulit,” ucap Ghawanmeh. Ia kehilangan kata-kata, gelisah di dekat api dan sesekali mengusap wajahnya karena kesedihan dan kelelahan. “Semua orang pergi. Tak ada satu pun yang tersisa. Mereka semua pergi.”
Sejak awal tahun ini, sekitar 450 dari 650 penduduk Palestina di Ras Ein al-Auja telah melarikan diri dari rumah mereka—bagi banyak orang, ini adalah satu-satunya tempat yang pernah mereka tinggali—karena kekerasan dari para pemukim Israel. Selain 14 keluarga Ghawanmeh, termasuk banyak anak-anak, yang mengaku tidak punya tempat tujuan lain, sisanya sedang berkemas dan akan pergi dalam beberapa hari mendatang.
Perpindahan cepat ratusan orang ini menandai pengusiran terbesar dari satu komunitas Badui akibat kekerasan pemukim Israel di era modern. Peristiwa ini bahkan memicu perayaan ejekan dari para pemukim yang semakin merangsek masuk, sementara kehidupan keluarga Badui kini hancur lebur, kehilangan tempat tinggal, mata pencarian, dan komunitas.
Hingga Tahun Baru lalu, warga Ras Ein al-Auja telah bertahan di tanah mereka, meskipun menghadapi serangkaian serangan fisik, pencurian, ancaman, pembatasan pergerakan, dan perusakan properti oleh pemukim. Situasi seperti ini kini menjadi terlalu umum bagi komunitas pedesaan Palestina di seluruh Tepi Barat.
Para pemukim semakin berani berkat pertumbuhan pesat pos-pos permukiman ilegal yang bermunculan di Tepi Barat. Permukiman dan pos-pos ini ilegal menurut hukum internasional. Mereka juga dibangun tanpa izin resmi dari otoritas Israel, namun dalam praktiknya sebagian besar ditoleransi dan diberi perlindungan oleh pasukan Israel, terutama dalam beberapa tahun terakhir di bawah pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Hukum internasional menyatakan bahwa kekuatan pendudukan seperti Israel tidak boleh memindahkan populasi sipilnya sendiri ke wilayah pendudukan, seperti Tepi Barat, tempat sekitar 700.000 pemukim kini tinggal.