TEHERAN, IRAN – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengklaim kesepakatan damai dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik militer di Iran belum pernah sedekat ini. Pernyataan ini langsung diamini oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator.
Sharif mengonfirmasi bahwa draf akhir kesepakatan damai telah mencapai titik final dan Pakistan kini bekerja sama dengan kedua belah pihak untuk merampungkan langkah selanjutnya. Presiden AS Donald Trump bahkan mengunggah ulang pernyataan Araghchi, sembari memperingatkan media agar tidak berspekulasi soal isi kesepakatan.
Namun, situasi memanas setelah media Iran menerbitkan rincian dugaan isi perjanjian. Trump dengan tegas membantah, menyebut klaim tersebut 'tidak ada hubungannya dengan kebenaran' dan menuduh Teheran sengaja membocorkan informasi palsu. 'Mereka adalah orang-orang yang sangat tidak terhormat untuk diajak berunding,' sergah Trump.
Sebelumnya, Trump mengaku telah membatalkan 'serangan yang dijadwalkan' terhadap Iran karena para negosiator baru saja mencapai 'penyelesaian besar' yang kemungkinan akan segera ditandatangani. Konflik ini bermula dari serangan besar-besaran AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, yang dibalas Iran dengan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk sekutu AS, serta penutupan Selat Hormuz—jalur vital minyak dan gas dunia.
Meski gencatan senjata April lalu telah disepakati, baku tembak sporadis masih terjadi, termasuk dua putaran serangan balasan pekan ini. Israel tidak dilibatkan dalam perundingan yang sebagian besar dimediasi Pakistan ini. Negosiasi bertujuan untuk memperpanjang gencatan senjata dan memulai pembahasan isu krusial, termasuk program nuklir Iran yang selama ini dituduh Barat sebagai kedok senjata nuklir.
Media Iran, Mehr, memberitakan daftar tuntutan Teheran yang mencakup pencabutan blokade laut AS, kompensasi kerusakan hingga 300 miliar dolar AS, serta pengesahan akhir oleh Dewan Keamanan PBB. Di sisi lain, AS juga memiliki daftar tuntutan yang selama ini ditolak Iran.
Analisis Dampak: Jika kesepakatan ini benar-benar terwujud, dampaknya langsung terasa pada harga minyak dunia yang selama ini volatil akibat blokade Selat Hormuz. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi angin segar menekan harga BBM dan biaya logistik. Namun, kecurigaan dan kebocoran informasi di kedua kubu menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih terjal dan penuh jebakan.