Bulgaria kembali dihadapkan pada pemilihan parlemen sela, yang dijadwalkan pada 19 April mendatang. Ini menjadi pemilu kedelapan kalinya hanya dalam kurun waktu lima tahun, sebuah indikasi nyata dari instabilitas politik berkepanjangan yang melanda negara Eropa tersebut. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden Iliana Iotova, menyusul pengunduran diri pemerintahan sebelumnya pada Desember lalu.
Mundurnya kabinet dipicu oleh gelombang demonstrasi anti-korupsi yang masif selama berminggu-minggu. Ribuan warga turun ke jalan memprotes draf anggaran 2026 yang mereka yakini menjadi upaya untuk menutupi praktik korupsi merajalela. Untuk mempersiapkan pemilu sela ini, Presiden Iotova telah menunjuk Andrey Gyurov, wakil gubernur Bank Nasional Bulgaria, sebagai kepala pemerintahan sementara.
Kondisi politik yang terus bergejolak ini, di mana partai-partai sulit membentuk koalisi stabil dalam parlemen yang terfragmentasi, tentu menimbulkan kekhawatiran besar. Apalagi, Bulgaria baru saja bergabung dengan zona Euro pada 1 Januari lalu. Instabilitas semacam ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi, mengikis kepercayaan investor, dan bisa berdampak pada integrasi Bulgaria yang lebih luas di Uni Eropa. Di sisi lain, mantan Presiden Rumen Radev, yang dikenal vokal mengkritik pemerintah dan mendukung protes, juga telah mengundurkan diri. Ada spekulasi kuat bahwa ia siap kembali bertarung dalam pemilu mendatang untuk 'memperjuangkan masa depan' Bulgaria sebagai anggota Uni Eropa dan NATO.